Friday, 10 April 2015

4 Langkah Dasar Memanage Seni Pertunjukan

Seni pertunjukan di indonesia sedang menghadapi masalah yang rumit. Permasalahannya tidak jauh dari pendanaan, pendanaan atau income menjadi masalah yang krusial karena berkaitan dengan kelangsungan hidup komunitas yang bersangkutan, sekaligus individu yang ada di dalamnya. Merencanakan atau memanage sebuah seni pertunjukan haruslah diperhitungkan dengan matang. Kita tidak boleh merencanakannya secara asal-asalan.

Dalam ilmu managemen dikenal sebuah prinsip management yakni POAC yang menjadi dasar dalam mengatur segala hal. Dalam dunia management seni pertunjukan POAC juga bisa diaplikasikan namun dalam praktiknya cukup sulit untuk dijalankan. Berikut ini adalah contoh sederhana penerapan pengaturan perencanaan sebuah seni pertunjukan

1. Planing
Planing berasal dari asal kata bahasa inggris yakni "plan" yang berarti perencanaan. Sebelum kita maju ke medan perang kita membutuhkan taktik atau rencana untuk mencapai tujuan kita. Dalam merencanakan sebuah pertunjukan, rencanakanlah matang-matang apa saja yang harus anda lakukan untuk mencapai tujuan. Sebagai contoh: kita memiliki visi menumbuhkan semangat pluralisme melalui seni pertunjukan. Maka kita harus merencanakan pertunjukan apa sajakah yang bisa menumbuhkan semangat pluralisme? kita juga harus mengetahui kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam rencana kita, sehingga kita sudah memiliki persiapan jika kemungkinan terburuk tersebut datang. Dalam perencanaan ini sebaiknya kita memperhatikan lima faktor yakni SMART

  • Spesific. Spesific artinya rencana kita tidak melebar, bisa dilihat dengan jelas dan gamblang ruang lingkupnya. 
  • Measurable.tingkat keberhasilannya dapat diukur dengan objektif. Dalam contoh kasus seperti di atas menumbuhkan semangat pluralisme lewat seni pertunjukan bisa kita ukur dengan memberikan kuosioner di akhir pementasan.
  • Realistic. Artinya sesuai dengan kemampuan kita. Tidak terlalu memberatkan dan tidak terlalu meringankan. contoh: mengenai properti seni pertunjukan kita, kita sudah merencanakan manakah properti yang membuat, mencari, dan membeli agar dana bisa ditekan sesuai dengan kemampuan organisasi.
  • Time. Ada deadline waktu yang jelas. mingguan, bulanan, tahunan. agar mudah dinilai dan di evaluasi

2. Organising

Pengorganisasian atau pembagian kerja. Kita sudah merencanakan dengan matang rencana kita. Sekarang kita membutuhkan panglima untuk memimpin pasukan kita. Pembagian kerja diperlukan karena tidak mungkin semua hal dilakukan oleh satu orang saja. Dalam dunia seni pertunjukan biasanya ada:
  • Pimpinan Produksi. Bisa disebut sebagai ketua panitia, merupakan orang yang bertanggung jawab secara penuh dalam sebuah acara. Bertanggung jawab mengatur semua seksi yang ada di bawahnya.
  • Sekertaris. Bertugas mendampingi Pimpinan Produksi, mencatat hasil di setiap rapat, membuat surat-surat, proposal, dan lain-lain.
  • Bendahara. Bertugas mencatat uang keluar, uang masuk, dan merencanakan pengeluaran dan pemasukan uang.
  • Publikasi. Bertugas mendatangkan penonton atau mempublikasikan pementasan dengan tujuan dihadiri penonton
  • Ticketing. Untuk mengatur alur pembelian, pembuatan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tiket
  • Dll (Seksi-seksi lain yang dipandang perlu) karena sebuah pertunjukan dengan visi dan misi yang berbeda dan tempat berbeda membutuhkan penanganan yang berbeda.
3. Actuanting

Ketika sudah membuat taktik atau planing dan pembagian kerja, yang paling penting adalah pelaksanaannya. Actuanting adalah pelaksanaan yang membutuhkan  kerja keras, kerja cerdas, kerja sama, dan mengoptimalkan kemampuan masing-masing individu di dalamnya. Pelaksanaan haruslah benar-benar sesuai dengan target dan cara yang sudah disepakati jika terjadi hal-hal yang tidak direncanakan seorang pimpinan produksi harus bisa mengambil langkah yang tepat, agar semuanya berjalan dengan lancar.

4. Controling

Untuk membuat semuanya berjalan dengan baik dan benar, perlu dilakukan controling disetiap tahap. Hal ini dimaksudkan agar ada penanganan lebih dini jika terjadi hal-hal yang diluar perkiraan, tidak hanya itu controling berfungsi juga untuk memaksimalkan kerja evaluasi sehingga kita akan tahu, dimanakah kekurangan kita.

Demikianlah 4 langkah dasar memanage seni pertunjukan. Kurang lebih sama dengan managemen dasar. Karena management dasar di atas merupakan ilmu managemen secara umum, sehingga bisa diaplikasikan di semua bidang. Untuk lebih rincinya, saya akan membahas perencanaan management seni pertunjukan secara khusus pada lain kesempatan.
Klik untuk Berlangganan Tulisan

Masukan Email Anda:

0 komentar :

Post a Comment