Showing posts with label artikel Teater. Show all posts
Showing posts with label artikel Teater. Show all posts

Monday, 22 April 2019

Pagi Bening dan Keparadoksannya


Madura. Sebuah kata yang mewakili salah satu suku yang cukup fenomenal di Nusantara ini. Madura sering diidentikan dengan kekerasan, mungkin budaya carok dan sejarah sampit membentuk biografi Madura dengan identitas keras-dan ternyata memang begitu adanya. Di samping watak keras yang telah mendarah daging, madura juga memiliki stereotip yang lain di mata etnis lain. Bahkan Agus R Sarjono dalam cerpen Mahwi Air Tawar Mengungkapkan "Madura selalu menempati tempat khas dan unik di batin bangsa Indonesia. Ada satu masa tak ada lawakan yang tidak ada sosok maduranya, tentu dengan logat bicaranya yang khas." Memang, Madura juga kerap diidentikan dengan kelucuan dan keluguan. Saya memiliki banyak kawan Madura, alih-alih menganggap mereka garang saya malah lebih mampu melihat kelucuan dan keluguan mereka.

Paradoks keras dan lucu itulah yang menjadi watak masyarakat Madura dan itu mampu dihadirkan oleh pertunjukan "Pagi Bening" karya Serafin dan Joaquin sutradara: Anwari yang di pentaskan di Pendopo Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Jember 1April yang lalu sebagai pertunjukan simulasi yang akan dipertunjukan di Salihara Jakarta. Kerasnya sosok wanita: Masbia dalam pertunjukan itu juga nampak dengan keberaniannya menantang sosok Maskat. Kelucuan demi kelucuan juga dinampakan dari pertengkaran dua tokoh itu. Di awal pertunjukan dua tokoh ini berebut tempat untuk duduk melihat pertunjukan "Topeng" kemudian terjadilah percekcokan, bahkan saling umpat dan saling ejek yang akhirnya didamaikan oleh kopi lalu berlanjut obrolan-obrolan santai dan intim yang menceritakan masa lalu orang terdekat mereka yang saling cinta tapi tidak pernah bisa bersatu padahal itu adalah masa lalu mereka sendiri. Mereka akhirnya mengetahui bahwa lawan bicaranya itu (Masbia dan Maskat) adalah mantan kekasihnya. Dua tokoh yang mungkin sudah memasuki usia sekitar 70an itu masing-masing membawa pembantu yang kadang menampilkan kelucuan khas madura, dengan logat dan tingkah polah khas masyarakat udik. Elyda K, dengan piawai mampu mentransformasi teks ini ke dalam budaya etnis Madura (perjodohan sejak dalam kandungan, kehidupan kyai di madura, harga diri, dll.), dia menarik peristiwa-peristiwa PKI ke dalam teks ini yang mungkin akan menjadi sebuah teks yang bermuatan sejarah.

Secara keseluruhan adaptasi teks yang dilakukan sangat rapi. Kerapiannya ini bisa menjadi paradoks: kelebihan sekaligus kekurangannya (setidaknya menurut saya). Jika saya andaikan Elyda sudah mampu mengganti kulit putih manusia sepanyol menjadi kulit coklat manusia madura beserta identitas lain yang menyertainya. Dalam artian struktur dramatik dari teks ini sebenarnya tidak berubah terlalu banyak: eksposisi, komplikasi, evaluasi, dan resolusinya pada tempat dan porsi yang kurang lebih sama dengan naskah aslinya. Hal ini merupakan proses adaptasi yang ketat dengan tidak membongkar satupun kerangka dramatik yang diciptakan pengarangnya.

Pada awal saya mendengar bahwa Anwari akan pentas menggunakan naskah "Pagi Bening" saya menganggapnya sebagai lelucon dengan intensitas kelucuan yang tinggi. Saya seperti mendengar Burger Kill yang ingin menyanyikan lagu Yolanda. Anwari dikenal sebagai seniman teater yang banyak membawa bentuk pertunjukan yang erat kaitannya dengan teater tubuh. Saya jadi kembali mengira-ngira "seperti apa kira-kira pertunjukannya?" Saya membayangkan pengadaptasian dilakukan dengan "liar" menerobos kaidah-kaidah realis dan menjadi dirinya seperti biasa. Saya jadi ingat "Machine Hamlet" karya Heiner Muller, saya kira, adaptasinya akan jadi semacam itu. Dimana Muller mungkin bukan mengadaptasi lagi tapi mendekontrukasi naskah drama "Hamlet" sehingga struktur, tematik, dialog benar-benar dimutilasi kemudian dari potongan-potongannya muncul makhluk yang baru dari kuburan Shakespare.

Tipografi Panggung Paradoks

"Kami mencoba menciptakan ruang-ruang privat antar aktor" ungkap dramaturg pertunjukan malam itu, Yuda. Sementara anwari ingin menghilangkan sekat antara pemain dan penonton

Panggung dibuat menjadi lima ruang (mungkin). Ruang 1: tokoh maskat, Ruang 2: tokoh masbia, Ruang 3: pembantu Masbia, ruang 4 pembantu Maskat, ruang 5: para pemusik. Mereka dengan disiplin berada di dalam ruang masing-masing dan tidak memasuki ruang pemain yang lain meskipun naskah mengharuskan mereka berinteraksi secara fisik hal itu dilakukan dengan seolah-olah. Seolah mereka berdampingan padahal tidak. Seperti cermin yang terbelah-belah.

Tawaran pemanggungan semacam ini cukup menarik. Namun menjadi sebuah kemubaziran ketika aktor-aktor masih ada di panggung yang sama akhirnya penonton masih melihatnya sebagai sebuah kesatuan. Pemanggungan semacam ini memungkinkan tokoh satu dan yang lain tidak berada di lingkup prosenium yang sama. Pemanggungan semacam ini memungkinakan untuk merespon lingkungan sekitar pertunjukan dengan meletakan aktor satu di bawah pohon dan aktor yang lain di tempat lapang dan terbuka atau bahkan di kuburan (jika perlu).

Keparadoksannya juga tidak dikelola secara konsisten. Pecahnya batas panggung dan pentonton hanya diciptakan oleh satu tokoh saja:Masbia. Di awal pertunjukan dia mengatakan bahwa pertunjukan ini akan dimulai, kemudian dia menunjukan kekayaannya dengan membagi-bagikan uang kepada penonton. Tapi pecahnya ruang privat ini tidak dilakukan oleh tokoh yang lain.

Secara keaktoran masing-masing tokoh mampu menunjukan kekuatannya di panggung. Mereka mampu mengolah dan membentuk suasana Madura dengan logat (ketika bicara Bahasa Madura), imajinasi, dan tingkahnya. Secara keselurahan aktor bermain cukup bagus, hanya saja mereka masih terjebak dengan logat Bahasa Indonesia. Entah ini strategi yang digunakan penggarap atau bagaimana? Tapi saya melihat ketika aktor(khususnya Masbia) mendialogan dialog Berbahasa Indonesia kemaduraannya menjadi hilang. Secara Fonetik dan intonasi dia menggunakan milik Bahasa Indonesia logat Maduranya hilang ketika menggunakan Bahasa Indonesia.

Secara individual Anwari susah dipisahkan dengan teater tubuh maupun teater antropologinya (yang masih berbau ketubuhan). Pertunjukan yang memperoleh kehormatan tampil di Salihara pada tanggal 8-9 April ini bagi saya seperti upaya melepaskan diri dari biografi yang dibangun Anwari sendiri. Bukan berarti yang dia lakukan salah tapi saya rasa ini adalah sebuah langkah berkembangnya Padepokan Seni Madura dan Anwari. Sebagai sebuah perjalanan tentu ada tujuan yang ingin dicapai. Dan saya rasa pertunjukan yang indah karya Padepok Seni Madura ini akan mempengaruhi biografi mereka selanjutnya.


Tuesday, 25 April 2017

Sekilas Tentang Teater Kaum Tertindas


Konsep ini adalah milik August Boal, seorang dramawan asal Brazil yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak akan terlepas dari tindakan politik, termasuk teater. Jika membaca tulisannya, pernyataannya ini mungkin didasari dari kondisi politik negaranya yang bergejolak pada saat itu sehingga dia menggunakan teaternya untuk menggerakan masyarakat pada usaha revolusi.

Dalam bukunya "Teater Kaum Tertindas" Boal sering menyatakan "Barangkali teater tidaklah revolusioner dalam dirinya sendiri; tetapi tidak usah ragu, ia adalah latihan revolusi!" hal ini merupakan konsep dasar berpikir teater Boal. Bagi dia teater bukan untuk katarsis seperti teater Aristotelian maupun menumbuhkan pemikiran kritis saja seperti konsep Brectian namun teater harus bisa menciptakan revolusi pada penontonnya.

Teater kaum borjuis adalah teater yang mendikte masyarakat dengan segala peralatannya, khususnya aktor. Di dalam Teater Kaum Tertindas, aktor tidak memiliki kuasa apa-apa untuk mendikte penonton mengenai nilai-nilai namun penontonlah yang menentukan nila-nilai tersebut untuk kemudian dimasukan ke dalam panggung. Penonton tidak hanya dijadikan objek mati dalam pertunjukan namun penonton berperan sentral dalam pertunjukan karena dialah subjek pertunjukan sedangkan aktor nyaris dijadikan objek total oleh penonton.

Teater jenis ini adalah metode supaya penonton melakukan tindakan atau aksi yang nyata karena penonton tidak hanya dijadikan objek pasif tapi mereka juga turut menentukan jalan cerita, mengatur aktor, bahkan mereka bisa saja bermain di dalamnya (Spek-aktor).

Penontonlah yang paling mengetahui apa yang mereka inginkan dalam sebuah permasalahan. Apalagi itu permasalahan yang menyangkut dirinya. Hal ini pernah diceritakan di sebuah wawancara bahwa dia pernah melakukan pentas untuk komunitas petani di daerah timur laut Brazil, pemain utama angkat pedang dan berkata “Kita tumpahkan darah demi tanah kita” mereka bernyanyi, menari, berakting, dan berpakaian seperti petani, mereka Nampak seperti petani tapi sesungguhnya bukan. Dan mereka berteriak “Kalian harus tumpahkan darah! Darah kita untuk selamatkan tanah kita!” lalu seorang di antara petani (sungguhan) yang menonton berkata “Kalian berpikir seperti kami dan kalian punya pedang bagus di panggung. Kenapa tak bawa pedang kalian dan bersama kami melawan tuan tanah yang merampas tanah kami? Mari tumpahkan darah kita. Boal dan kelompoknya menjawab “Maaf, tapi ini bukan pedang sungguhan. Ini hanya pedang untuk perlengkapan panggung” petani itu berkata lagi “oke itu pedang palsu, tapi kalian punya kebaikan, itu senjata abadi. Mari berjuang bersama kami.” Boal kembali menjawab “Tidak. Kami adalah seniman, bukan petani sebenarnya” petani itu berkata lagi “saat seniman berkata ‘tumpahkan darah kita’ kalian bicara tentang darah sebenarnya dari kami, petani sebenarnya. Bukan darah kalian”. Akhirnya Boal menyadari bahwa kita tak bisa menyampaikan pesan pada perempuan sebab kita lelaki, pada kulit hitam sebab kita kulit putih, pada petani sebab kita orang kota. Tapi kita bisa bantu menemukan cara berjuang mereka sendiri

Dari hal tersebut dia sadar bahwa penonton sendirilah yang mengetahui jalan keluar manakah yang pas untuk kondisi mereka dan nilai-nilai apasajakah yang bisa mereka pegang. Teater konvensional bagi Boal terlalu memaksakan kehendaknya mengenai sebuah pemikiran, karena setiap tempat memiliki kebudayaan dan adat yang berbeda maka mereka juga memegang nilai-nilai yang berbeda.

Untuk mencapai keadaan-keadaan yang revolusioner pada tubuh penonton, Boal menggunakan beberapa metode. Sebenarnya metode-metode ini mirip dengan teater game. Metode-metode yang digunakan Boal rata-rata mungkin sudah pernah kita pelajari dalam latihan dasar teater kita sebelum memasuki naskah, hanya saja diterapkan pada saat pertunjukan pada penonton.




Monday, 17 April 2017

Catatan Hatedu Pawon Carklacer

Bagi saya hatedu itu hanyalah sebuah nama dan sebuah formalitas untuk bersama-sama berpentas. Teater dalam perjalanannya mulai digantikan oleh media elektronik namun teater dengan segala tetek bengeknya masih menawarkan artistik dan daya pengucapan yang tidak bisa digantikan dengan layar smartphone: Keintiman, kejujuran, dan kemurnian.

Pertanyaan berikutnya yang perlu dijawab adalah seberapa pentingkah teater untuk sebuah peradapan? Di masa lalu teater dianggap sebagai sesuatu yang diperlukan untuk merefleksikan kehidupan, ritual, dan simbol sebuah peradapan. Namun hari ini? Apakah teater masih bisa menjadi barometer itu semua atau perannya sudah habis? Dan digantikan dengan bentuk yang lain. Apakah yang terjadi jika masyarakat kehilangan teater?

Masih banyak sederet pertanyaan existensial mengenai teater yang harus kita jawab bersama untuk selanjutnya kita putus kan akan kita hidupkan atau bunuh bersama-samakah teater?

Dalam momen Hatedu ini, Pawon Cerklacer yang bekerjasama dengan berbagai komunitas mencoba menjawabnya dengan mengumpulkan berbagai pertunjukan untuk kita renungkan bersama layakah teater tumbuh di antara peradaban kita hari ini? Atau mari bersama-sama kita akhiri peradaban teater kita.

Nayla dan Imajinasi Yang Runtuh

Sex, wanita, tubuh, dan imajinasi mungkin serangkaian laku teater dalam kamar laki-laki.

Panggung yang dibiarkan remang dengan sorotan layar monitor menerpa wajah aktor dengan samar-samar kemudian muncul lagu seriosa yang menambah suasana gotik dalam gedung PKM membuka pementasan malam itu. Ada layar LCD proyektor yang terlihat membuka folder dan dilanjutkan membuka microsoft word. Dari sini saya merasakan kedekatan yang monumental dalam atmosfir yang tersusun pada malam itu.

Aktor melanjutkan perjalanan cerita malam itu dengan mengetik dalam gelap yang remang. Seluruh pertunjukan dirajut dengan suara ketikan cerpen Jenar Maesa Ayu yang berjudul "Menyusu Ayah" yang menceritakan kisah seorang anak yang sedari kecil menyusu kemaluan ayahnya yang akhirnya berakhir pada kehamilannya lalu diakhiri kemunculan aktor yang menegaskan bahwa dirinya adalah Nayla, kemunculannya yang meruntuhkan segala bangunan yang disusun dari puing-puing dramaturgi (realis) yang ia kacaukan sendiri. Kemunculan yang akhirnya meruntuhkan dramaturginya sendiri.

Imajinasi kita sebagai penonton yang membaca terbangun bersama alunan lagu seriosa yang dijejalkan ke dalam telinga kita. Sebuah pertunjukan yang berbasis gagasan. Mengedepankan idealisme untuk menyampaikan gagasan dengan konsep pemanggungan untuk memperkuat gagasannya.

Keberadaan wanita dengan segala imajinasi liar mengenai tubuh dan keber-ada-annya dalam sudut pandang pemuas hasrat terbangun dalam imajinasi saya sebagai penonton. Cerita itu merajut visual dirinya dalam kepala saya dengan alunan musik seriosa. Namun sungguh sangat disayangkan kemunculan aktor diakhir yang tidak memiliki kekuatan apa-apa dan kesannya menjadi tempelan dan formalitas belaka.

Badogan:Perut Mengalahkan Kepala

Badogan adalah bahasa Jawa yang paling kasar yang menggantikan diksi mangan, nedho, madang (baca:makan) dll.

Badogan sebuah pertunjukan nirdialog yang disuguhkan dengan gagasan yang gurih oleh STJ (studiklub teater jember). Gagasan yang akan terus tumbuh dan berganti kulit. Saya jadi ingat salah satu potongan puisi Rendra yang berjudul "Sajak Orang Lapar" bunyinya seperti ini

" Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin
Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan
Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran"

Antara puisi Rendra yang berjudul "Sajak Orang Lapar" dan pertunjukan STJ mewakili semangat yang sama. Kelaparan mampu mengalahkan logika, etika, moral, apalagi kebudayaan. Kelaparan mampu berevolusi menjadi kerakusan, kediktatoran, lalu menegaskan keberadaan manusia yang sama dengan hewan.

Pertunjukan yang 75%isinya adalah adegan makan (imajinatif maupun sebenarnya) dan saling memakan, mengisi relung-relung sudut panggung dengan gruping-gruping yang tersusun rapi dan renyah. Ada dua aktor di sisi kanan dan kiri yang terlihat membangun dimensi yang berbeda dengan pertunjukan yang ada ditengahnya. Seolah aktor yang ada di kanan adalah pencatat dengan aksi yang terus mengetik dengan mesin tik dan aktor di kiri (yang diperankan pak ajiz, sutradara) adalah pembaca yang terus membaca koran. Seolah peristiwa kelaparan yang terjadi di tengah adalah rangkaian huruf yang membentuk sejarah manusia dan akan terus berubah narasi namun memiliki saripati yang sama.

Anak Angsa Yang Ingin Mencapai Bulan


Sebentar, kenapa saya menulis judul yang seperti ini? Entahlah, saya akan mencoba mengupas pertunjukan Teater Angsa dari SMK 5 Jember meskipun saya tidak konsen dalam melihatnya karena saya dalam kondisi deg-degan sebab setelah ini saya juga pentas. (Paragraph gak penting)

Hmm... Tubuh se imut mereka sedang mengartikulasikan tragedi hilangnya para aktipis. Ini adalah seauatu yang sah dan merupakan bentuk menolak lupa terhadap sejarah kelam bangsa ini. Seandainya semua anak SMA seperti itu, borok penguasa negeri akan terus melekat dalam ingatan kolektif kita dan menegaskan pemerintah itu bukan ayah kita sepenuhnya tapi mereka juga musuh kita yang patut kita curigai.

Meskipun secara pertunjukan mereka mengusung konsep nonrealis namun dalam akting mereka masih mencoba menjadi orang lain dan di sinilah mereka perlu belajar menubuhkan tokoh atau memanggungkan tubuh

Tubuh-tubuh yang dijejali tema yang jauh dari sejarah tubuh mereka terlihat cukup jelas. Sehingga keragu-raguan tubuh terlihat cukup miris. Rajutan tubuh yang ragu-ragu menemani atmosfir pada malam itu. Saya merasa ada jarak yang cukup jauh antara tubuh, adegan, dan diksi-diksi yang mereka sampaikan mungkin observasi yang mereka melakukan adalah observasi alakadarnya ( hanya dari lagu efek rumah kaca). Padahal tema-tema semacam ini adalah tema yang sensitive dan memerlukan observasi mendalam agar tubuh aktor-aktornya mampu menangkap spirit temanya sehingga tubuhnya tidak hanya bergerak namun juga menyemburkan aura tema yang mereka angkat. Akhirnya adegan-adegan yang seharusnya kuat menjadi hambar.

Kurma Dan Hal-hal Yang Tak Tersampaikan

Saya harus gimana ya memulainya? Soalnya saya yang menyutradarainya sekaligus menjadi aktor, masak iya, saya juga mencoba mengkritik pementasan saya sendiri. Biarlah ini menjadi catatan pribadi saya sebagai penggarap.


Konsep saya adalah mengaburkan dinding ke empat yang memisahkan antara penonton dan alam panggung. Sebenarnya tujuan saya adalah konsep pemanggungan Brecht yang mampu merangsang daya kritis penonton dengan menyadarkan mereka bahwa ini hanyalah pertunjukan. Tapi entahlah, bentuk pertunjukan yang mirip dengan konsep pertunjukan tradisi ini menawarkan komedi sebagai pembalut gagasan-gagasannya. Jangan-jangan penonton tidak melihat pertunjukan sebagai sesuatu yang perlu dikritisi namun melihat pertunjukan sebagai sesuatu yang harus ditertawai. Mengingat tradisi menonton kita cenderung menertawakan mungkin kita bangsa yang suka menertawakan orang lain, seperti tradisi-tradisi teater yang diadopsi televisi, mereka membuat teater harus ditertawakan.

Jangan-jangan bentuk alienasi pertunjukan ini justru membuat mereka lupa dengan kehidupan mereka karena humor yang disampaikan justru membuat orang lupa terhadap esensi yang ada di dalamnya. Itulah kelemahan bentuk pemanggungan ini. Humor di dalam tradisi kita selalu dipandang sebagai obat lupa, obat lupa terhadap segala carut-marutnya kehidupan kita.

Teror Botol yang Hoax


Sebelumnya saya tegaskan, saya hanya melihat gladinya saja. Pementasan dari teater gelanggang ini menawarkan akting yang menjadi diri sendiri yang sibuk dan bermain-main seperti mereka setiap harinya.

Saya pernah menonton pementasan Teater Gelanggang beberapa tahun yang lalu bersama UKM Kesenian UNEJ dan saya rasa pementasan mereka yang kemaren, "Anatomi Botol" merupakan bentuk pembuktian mereka bahwa mereka sudah berkembang dan mulai menemukan bentuk mereka.

Banyak sekali suara botol jatuh, suara botol digesek-gesek. Botol secara audio meneror penonton. Banyak botol dilempar-lempar, botol digantung-gantung bahkan beberapa kepala mereka diganti dengan galon. Teror botol secara audio maupun visual mengepung gedung pertunjukan malam itu, menjadikan gedung banjir botol.

Menegaskan bahwa kita masyarakat urban tidak bisa jauh dari barang-barang plastik atau botol plastik. Namun yang menarik adalah seolah-olah botol di sini memiliki makna ganda, selain botol secara sebenarnya, sutradara ingin mengarahkan botol sebagai simbol media. Botol yang ditiup hoax, botol yang dijadikan alat komunikasi, presenter yang menarik penonton untuk di interogasi pertanyaan hoax dan melahirkan jawaban-jawaban hoax secara sepontan namun terstruktur.

Pertunjukan ini sebagian besar dirajut dari jalinan laku performance art. Di dalam perfotmance art tidak ada akting, dan tipuan., semua dilakukan dengan jujur dan apa adanya.

Namun yang menarik adalah explorasi kawan-kawan gelanggang yang tetap tidak meninggalkan siapa mereka? Dalam artian explorasi yang mereka lakukan adalah guyonan mereka setiap hari jadi bagi yang mengenal mereka, yang mereka lakukan adalah main-main dan celoteh mereka sehari-hari. Mereka hanya mentransfernya ke dalam bentuk pemanggungan. Bahkan sebelum masuk mereka sempat bermain-main di luar panggung, main-main yang meneror penonton dengan kebisingan suara botol digesek dan celotehan-celotehan mereka.

Namun bagi saya ada sebuah kesayangan yang berupa inkonsistensi dalam pertunjukan itu. Mungkin mereka ingin memberikan aksen tertentu atau apa? namun saya merasa ada sebuah adegan yang kurang pas (di hati saya), yakni: ketika masuk gerakan butoh dalam tubuh aktor berkepala galon, mereka akhirnya mencoba keluar dari dimensi awal yang mereka bangun yakni dimensi kejujuran dan kepolosan mereka dari rangkaian akting performance art. Di awal mereka menawarkan tubuh yang polos dan tanpa tendesi untuk "menjadi" namun diruntuhkan oleh tubuh butoh mereka sendiri.

Hartedu Itu Cuma Alibi

Entahlah. Bagi saya pribadi Hatedu hanyalah sebuah alibi untuk bersama-sama pentas. Tidak ada cita-cita yang muluk-muluk bagi saya meskipun sebenarnya ada rangkaian acara yang tidak terlaksana namun bagi saya bisa pentas dan melihat bagaimana kelompok lain juga memiliki semangat yang sama, sudah cukup.


Sebuah pertanyaan penting yang harus dijawab oleh para pelaku teater malam itu adalah “Kapan Pentas Lagi?”

Sunday, 1 May 2016

Manfaat Teater Hari Ini


Selain sebagai biro jodoh yang illegal, teater merupakan salah satu disiplin kesenian yang menggabungkan berbagai macam disiplin kesenian yang lain. Tidak hanya menggabungkan disipilin kesenian, sebenarnya teater menggabungkan berbagai disiplin keilmuan yang lain. Dalam beberapa kasus teater juga menggunakan psikologi, sosiologi, matematika, biologi, antropologi, bahkan sexologi. Hal ini membuktikan bahwa teater merupakan sebuah wadah dimana berbagai pemikiran dan ilmu akan bercampur baur seperti adonan kue mamah dan menjadi sebuah pementasan utuh. Bentuk pertunjukan teater merupakan kolaborasi berbagai disiplin ilmu dan pemikiran. Bagi para pekerja teater tentu akan mengetehaui hal ini, dan mengamininya. Setidaknya ada dua golongan umat yang mendapatkan manfaat teater. Pertama para pelaku atau pekerja teater, Kedua para penikmat Teater.

1.       Teater membantu kita mencari jodoh kebenaran

Fungsi yang pertama ini hampir mirip dengan filsafat karena teater merupakan buah perenungan mengenai sebuah permasalahan. Untuk membuat naskah teater dibutuhkan sebuah pengetahuan yang cukup untuk mengangkat sebuah tema yang ingin diangkat. Hal ini hampir sama jika kita pedekate dengan cem-ceman kita. kita harus mengetahui informasi yang cukup mengenai siapakah cem-ceman kita? apa yang dia sukai? Dan tempat ngedead mana yang menjadi favoritnya? Dan tipe manusia seperti apakah yang dia damba-dambakan? Kita harus mengetahui banyak informasi mengenai cem-ceman kita dalam rangka melancarkan akal bulus kita. Hal yang sama berlaku pada teater, maka dari itu teater merupakan wujud pencarian dan penggalian, sehingga para pekerja di dalamnya mau tidak mau harus mencari, menggali, dan menyetubuhi  tema dalam teater untuk mewujudkan pementasan yang ideal. Pementasan yang indah secara universal pasti memerlukan keseriusan dalam pencarian kebenaran di dalamnya.

Teater merupakan salah satu media seni yang cukup perawan (mungkin) dari kepentingan-kepentingan daripada media seni yang lain (menurut saya). Hal inilah yang membuat teater menjadi media seni yang paling lugu dalam mengucapkan kebenaran, tidak ada tendensi apa-apa dalam teater, kecuali teater telah menjadi salah satu seni komersil seperti sinetron atau televisi yang mementingkan rating. Itulah yang menyebabkan teater selalu menyuarakan kebenaran berdasarkan sudut pandang para pekerja teater itu sendiri, dan masyarakat tentunya bisa merenungkan dengan serius dari apa yang disuarakan oleh teater.

2.       Teater Sebagai Caunter Culture (Budaya Tandingan)

Pada masa sekarang ini kebudayaan manusia dikendalikan oleh kebudayaan populer yang diproduksi oleh televisi. Di sinilah peran teater sebagai penyeimbang atau sebagai budaya tandingan terhadap budaya populer yang ada, bukan malah menjadi penyokong terwujudnya cita-cita budaya populer yang tidak jelas.

Mengapa teater perlu menjadi budaya tandingan kebudayaan yang sudah ada? Sebagai sebuah seni, teater menawarkan kebenaran di dalamnya, melawan kebudayaan yang ada dengan kebudayaan yang baru merupakan langkah untuk menjauhkan masyarakat kepada kesesatan. Teater perlu mengkritisi terhadap kelakuan masyarakat hari ini dengan begini teater memiliki peran yang nyata terhadap lingkungan sekitarnya.

Dunia ini memerlukan putih dan hitam sebagai penyeimbang. Ketika dunia ini hanya putih saja maka akan terjadi banyak masalah dan ketimpangan, begitu pula sebaliknya. Kebudayaan yang sudah terbentuk polanya memerlukan kebudayaan yang lain sebagai penyeimbang agar terwujud dunia yang harmonis. Hal ini sama dengan laki-laki dan perempuan. Ketika semua makhluk di dunia ini adalah laki-laki, lalu mana letak keindahannya? Apakah laki-laki harus berkasih-kasih dengan laki-laki? Tidak ! Bagaimana lelaki harus mengeluarkan hasrat cintanya?, maka akan timbul gonjang-ganjing di dunia ini. Itulah mengapa dunia masih memerlukan teater, sebagai caunter culture kebudayaan yang sudah ada agar kebudayaan yang ada tidak kebablasan.

3.       Mengasah ketajaman pemikiran

Seperti yang sudah di sampaikan sebelumnya, proses teater adalah proses pencarian kebenaran. Maka dari itu, menggali tema, observasi, dll. Merupakan makanan sehari-hari pekerja teater. Mereka akan lebih kritis terhadap fenomena-fenomena yang terjadi karena sudah berpengalaman dalam memandang sebuah permasalahan.

Proses teater yang sungguh-sungguh memerlukan kerja yang cukup berat seperti pembacaan dan penafsiran teks. Untuk membaca dan menafsirkan teks tidak bisa asal-asalan harus ada observasi, dan pembacaan yang mendalam untuk mendapatkan tafsir yang kuat. Ketika sudah mendapatkan tafsir yang mereka inginkan, mereka masih harus memasukan unsur-unsur panggung supaya mendukung tafsir atau memperkuatnya. Penyelarasan unsur-unsur panggung dengan tafsir yang sudah ada juga memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang terlatih.

Dalam membaca teater juga diperlukan ketajaman pemikiran, khususnya teater yang bernada simbolis. Memang benar, dalam melihat sebuah pertunjukan kita bebas menginterpretasinya, namun setidaknya dalam sebuah pembacaan pasti ada proses berfikir.

4.       Mengasah ketajaman perasaan

Seperti halnya seni yang lain yang memerlukan unsur cipta, rasa, dan karsa. Teater juga melibatkan unsur-unsur itu di dalamnya sehingga salah satu unsur “rasa” yang ada di dalam diri manusia akan lebih terasah lagi sehingga kita akan lebih peka terhadap  ruang wacana, isu, atau ruang-ruang yang lain.

Para pekerja dan penonton teater akan terbiasa bekerja dengan rasa yang menjadikannya berbeda dengan hewan. Mengasah pengetahuan kognitif saja tidak akan membuat manusia menjadi lebih manusia karena pengetahuan yang kita miliki sama dengan kuku dan taring hewan. Kita bisa menggunakan kuku dan taring itu untuk membunuh mangsa atau untuk sekedar garuk-garuk saja.

Setidaknya itulah empat manfaat teater hari ini. Sebagai sebuah seni, teater memiliki fungsi umum sebuah seni namun sebagai wujud kebudayaan manusia yang unik teater juga memiliki fungsinya sendiri yang bersifat unik dan tidak ada dalam seni yang lain. Maka dari itu ketika kebudayaan kehilangan teater maka dia akan kehilangan salah satu anggota tubuh yang menyebabkan kepincangan terhadap jalannya kebudayaan, melestarikan seluruh elemen kebudayaan adalah salah satu cara untuk menciptakan peradaban yang lebih tinggi dan lebih maju.

Monday, 11 May 2015

Teater Mancanegara Berjenis Tradisi

Teater tradisi merupakan budaya unik yang dimiliki masing-masing negara. Keberadaannya merupakan bentuk kemajuan sebuah kebudayaan. Saya mengatakan keberadaan pertunjukan tradisi adalah kemajuan sebuah kebudayaan, karena secara artistik teater atau pertunjukan melibatkan berbagai disiplin kesenian di antaranya seni rupa, seni make up, seni akting, dll. Mengetahui bentuk-bentuk seni pertunjukan tradisi akan menambah pengetahuan kebudayaan sekaligus mempertajam wawasan estetika kita.
Teater Mancanegara dari Jepang. Teater Tradisi Kabuki

Teater tradisi Jepang

Jepaag merupakan negara dengan kebudayaan yang maju. Hal ini bisa dilihat dari kondisi jepang saat ini. Jepang memiliki beragam kebudayaan, bahkan memiliki kebudayaan atau seni meminum teh, yang bisa dimasukan dalam kategori seni pertunjukan. Jepang memiliki beragam seni teater tradisi di antaranya adalah Noh, Kabuki, dan kyogen.

Noh

Noh merupakan seni drama musik klasik di jepang. Noh memiliki beberapa bagian tarian (mai), musik (hayashi) dan kata-kata yang ada dalam lagu (utai). Diperkirakan noh mulai muncul pada abad ke 14. Cirikhas noh yang lain adalah pemainnya mengenakan topeng dan menari dengan tempo yang sangat lambat.


Kabuki

Awal munculnya Kabuki dibawakan oleh seorang wanita bernama okuni di kuil Kitano Temang, kyoto. Sampai saat ini tidak ada yang tahu persis siapakah okuni. Banyak yang percaya bahwa Okuni merupakan pendeta wanita atau Miko. Hampir sama dengan noh, kabuki juga memiliki unsur tari (mai), unsur musik (Hayashi), dan ki (teknik). Kabuki menggunakan make up dan kostum yang lebih mencolok. Kabuki mengalami perkembangan pesat di jepang, bahkan sebuah kelompok Kabuki bisa membuat gedung pertunjukannya sendiri

Kyogen

Kyogen memiliki akar yang sama dengan Noh, yakni Sarugaku. Jika noh menggunakan topeng dan tema-tema tragedi maka kyogen justru sebaliknya. Dalam pertunjukannya kyogen tidak menggunakan topeng. Pertunjukan kyogen rata-rata berisi humor satir, humor yang menertawakan kegagalan. Kyogen juga kental dengan unsur pantomimnya, yang meniru gerak Sarugaku.

Bunraku

Bunraku merupakan kesenian tradisi jepang yang menggunakan boneka sebagai medianya. Bunraku cukup unik, jika wayang di Indonesia dimainkan oleh seorang dalang, maka Bunraku dimainkan oleh tiga orang dalang. Sebuah boneka akan dimainkan oleh tiga orang, dimana pembagiannya menurut senior dan junior. Untuk dalang yang paling senior dan berpengalaman akan memainkan bagian kepala dan lengan sebelah kanan sekaligus mengisi suaranya, kemudian lengan bagian kiri akan dimainkan oleh dalang yang lebih junior, dan kaki-kakinya akan dimainkan oleh dalang yang paling junior.


Teater Tradisi China

Opera peking merupakan teater tradisi cina. Dinamakan sebagai Opera Peking karena muncul pertama kali di Beijing, dahulu bernama peking. Opera peking memiliki ciri khas kostum dan make up yang mewah. Pada make up dan kostum biasanya mencirikan watak tokohnya merah mencerminkan kesetiaan, ungu melambangkan kecerdasan, keberanian, dan kesatriaan, warna hitam melambangkan orang yang jujura dan berterus terang, sedangkan warna putih justru menunjukan orang yang licik, jahat, dan kejam.

Sebenarnya ada banyak sekali bentuk teater tradisi. Setiap negara memiliki tradisinya sendiri sehingga menurut hemat saya teater mancanegara sangat banyak sekali jumlahnya. Di indonesia, bentuk drama klasik ada sangat banyak, bahkan disetiap daerah memiliki bentuknya sendiri. Pada lain kesempatan saya akan mencoba membahas bentuk drama tradisi indonesia. Jika anda memiliki informasi terkait drama mancanegara tradisional anda bisa membagi informasi itu di kolom koment di bawah ini.


Friday, 8 May 2015

Membuat Sebuah Konsep Pertunjukan/Teater

Cara membuat konsep pertunjukan teater, sebenarnya ada banyak. Setiap sutradara memiliki caranya masing-masing. Ada yang langsung mendapat ilham (jika beruntung) namun ada juga yang harus bersusah payah agar mendapatkan konsep yang menarik. 
membuat konsep pertunjukan teater

Membuat konsep sebuah pertunjukan penting bagi seorang sutradara sekaligus bagi timnya. Konsep pertunjukan merupakan sebuah peta yang akan dituju. Berikut ini beberapa langkah yang saya lakukan untuk membuat sebuah konsep pertunjukan

1. Pahami Naskah Anda
Bagi sebuah pertunjukan yang berpangkal pada naskah, memahami naskah sangatlah penting. Nantinya naskah ini bisa diadaptasi atau ingin digarap secara apa adanya. Pemahaman pada naskah terkadang memberikan kita banyak sekali ide untuk menggarapnya. Contoh: Kemarin saya menggarap sebuah naskah Arkeologi Beha dan saya mencoba memahami isinya, setelah saya memahami isinya yakni mengenai feminisme, kemudian saya mencari-cari mengenai feminisme, dan menemukan sebuah pernyataan bahwa wanita dianggap lebih inferior dari laki-laki karena sistem reproduksinya, akhirnya saya mencoba menyimbolkannya dengan permainan cat yang kotor, menjijikan, dan penuh warna merah darah.

2. Buatlah Sebuah Premis
Cara ini saya dapatkan dari buku Mochtar Lubis, seperti yang sudah saya tuliskan pada artikel saya .4 Langkah Menulis Fiksi/Cerpen/Novel/Naskah Drama. Premis disini adalah premis mengenai kesan pementasan kita. Premis cukup satu kalimat saja, tapi yang jelas. Contoh: Pementasan yang menghentak sekaligus meneror penonton atau permainan realis yang rapi dan megah. Dari premis ini akhirnya kita tahu mau kemanakah kita?

3. Buatlah Rengrengan untuk masing-masing Element Pertunjukan
Dari premis itu buatlah sebuah konsep sederhana tentang elemen-elemen teater seperti keaktoran, lampu, dan lain-lain. contoh: konsep keaktoran dengan gaya Mayerhold untuk mendapatkan kesan menghentak atau penggunaan metode stanilavski, dll. Begitu pula lampu dan semuanya.

4. Disukusikan dengan Tim
yang saya sukai dari teater adalah kerja timnya. Dari konsep kita yang awalnya sederhana akan menjadi luar biasa berkat tim kita, karena saya meyakini setiap manusia itu unik dan memiliki pengalaman estetisnya sendiri. Biarkan tim anda meng explor konsep dasar anda, namun anda juga harus tetap mengawasi dan memberikan pengetahuan-pengetahuan terkait konsep anda.

5. Action Beibeh
Ini yang paling penting. Percuma, ngonsep lama tapi gak praktek. Terkadang yang terjadi di lapangan tidak sama dengan yang kita pikirkan atau bahkan ketika kita berproses kita akan menemukan banyak ide.

Cara di atas bukanlah sebuah pakem yang harus kita ikuti. Sekali lagi, saya percaya bahwa manusia itu unik dan memiliki caranya masing-masing dalam menafsirkan sesuatu. Jika cara di atas tidak cocok dengan cara anda gunakanlah cara anda sendiri atau memodifikasi cara di atas.

Monday, 4 May 2015

Siapakah Tadashi Suzuki Dalam Dunia Teater?

Saya mengenal Tadashi Suzuki dari sebuah workshop yang diadakan Teater Ruang Solo. Pada saat itu aktor Teater Ruang Solo, mas Helmy memperkenalkan kepada kami tentang metode akting Suzuki yang yang lebih menitik beratkan pada tubuh. Yang menarik lagi, Teater Ruang Solo mengembangkan metode akting Suzuki menjadi metode aktingnya sendiri yang diberi nama metode dunia berbalik, sayang metode itu tidak disharingkan kepada peserta workshop pada saat itu.


Untuk mengobati rasa penasaran saya terhadap Tadashi Suzuki saya mencoba mencari tahu tentang Tadashi Suzuki, dan hanya mendapatkan referensi dalam bahasa inggris. Tadashi Suzuki lahir pada tanggal 20 Juni 1939 di Shimizu, Shizuoka. Tadashi Suzuki merupkan merupakan seorang sutradara teater, penulis dan filsuf yang bekerja di Toga, Toyama, Jepang. Dia adalah pendiri dan Sutradara Suzuki Company Of Toga (SCOT). Penyelenggara festival teater jepang yang pertama (Toga Festival). Bersama Anne Bogart ikut mendirikan Saratoga International Theater Institut di Saratoga Spring, New York. Tadashi Suzuki adalah pencipta metode akting Suzuki. Suzuki pernah menjadi sutradara artistik umum Shizuoka Performing Arts Center (1995~2007). Ia juga merupakan anggota komite international Theatre Olypics. Anggota sekaligus pendiri Festival BeSeTo (diselanggarakan oleh seniman teater terkemuka dari jepang, korea, dan cina) dan ketua dewan direksi dari  Japan Performing Arts Foundation, jaringan teater profesional di jepang.

Naskah dan karya yang pernah dipentaskan Suzuki antara lain On the Dramatic Passions”,“The Trojan Women”,“Dionysus”,“King Lear”, “Cyrano de Bergerac”, “Madame de Sade”, dll.

Selain produksi dengan organisasinya sendiri, Suzuki juga sering melakukan kolaborasi international sebagai sutradara, salah satu karya kolaborasinya adalah The Tale of Lear, yang disajikan di empat daerah di Amerika. King Lear disajikan bersama Moscow Are Theatre, Oedipus Rex diproduksi bersama Cultural Olympiad dan Düsseldorf Schauspielhaus. Dan Electra diproduksi bersama dengan Ansan Art Center / Teater Arco Arts di Korea dan Taganka Teater di Rusia.

Dia membawa grupnya, ke Tokyo di desa pegunungan yang terpencil di Toga pada tahun 1976.
Suzuki telah menuliskan teorinya dalam beberapa buku. Kumpulan tulisannya dalam bahasa Inggris, The Way of Acting diterbitkan oleh Theatre Comunication Group (US). Dia telah mengajarkan sistem pelatihan aktingnya di sekolah-sekolah dan grup teater di seluruh dunia, termasuk Juliard School dan Moscow Art Theatre. Cambridge University Press menerbitkan The Theater Of Suzuki Tadashi.

berikut ini video yang berisikan metode akting suzuki


ini juga


Itulah secuil biografi dari Tadashi Suzuki yang saya ambil dari http://en.wikipedia.org/wiki/Tadashi_Suzuki, ada beberapa bagian yang sulit diterjemahkan jadi saya lompati. Semoga bermanfaat.

Thursday, 23 April 2015

Pementasan Arkeologi Beha Oleh Lebus


Salam budaya... Komunitas kesenian Jember kembali memiliki hajatan. Dalam rangka menunaikan ibadahnya yang bernama Aplikasi, Teater Tiang Universitas Jember akan mengadakan acara yang berupa serangkaian pementasan teater yang akan dimeriahkan oleh beberapa komunitas yang ada dijember. Salah satunya adalah komunitas seni pertunjukan Lebus.

Komunitas Lebus adalah komunitas yang mencoba fokus pada bidang seni pertunjukan. Pada kesempatan kali ini komunitas Lebus akan mempersembahkan sebuah pertunjukan monolog Arkeologi Beha naskah Benjon yang dimainkan Oleh Novan Dwi Saputra, disutradarai oleh Ferick Sahid Persi, Asisten sutradara sekaligus Sutradara Musik Ghuiral Safaragus, Wardrobe Putri, dan dibantu oleh Rudolf (UKM Kesenian Unej), Cholis (UKM Kesenian Unej). Pementasan akan diadakan pada tanggal 29 April jam 19:00 di PKM Universitas Negeri Jember.

Pengantar Pertunjukan

Wanita adalah makhluk yang sial dalam kehidupan patriarki. Lalulintas hidup dan tubuh wanita di atur oleh rambu-rambu yang diciptakan masyarakat. Keberadaannya merupakan serangkaian norma-norma yang diciptakan masyarakat, sehingga dirinya yang sebenarnya bebas terpaksa harus tunduk terhadap budaya patriarki yang menjadikan dirinya sebagai objek bagi laki-laki. Sementara di sisi lain agama digunakan untuk mengaturnya supaya lebih ketat lebih tidak bisa bergerak, menganggapnya sebagai musuh, sebagai iblis, yang akan masuk neraka.

Kemudian adakah pilihan bagi wanita diposisinya sekarang ini? bunuh diri merupakan tawaran yang diberikan naskah ini. Maju melawan atau bunuh diri? atau hidup penuh kesia-siaan karena tanpa kebebasan.

Saturday, 11 April 2015

5 Hal yang Membuat Pertunjukan Kita Buruk

Teater merupakan sebuah seni pertunjukan yang melibatkan banyak individu. Secara otomatis teater melibatkan berbagai bidang ilmu dan pemikiran individu di dalamnya. Kekompakan setiap individu dalam membuat sebuah pementasan merupakan kata wajib yang harus kita sepakati. Terkadang kita berhasil membuat pementasan dengan kategori bagus, namun di lain sisi kita juga membuat pementasan dengan kategori yang buruk. Sebenarnya kita hanya harus mengevaluasi pementasan kita yang berkategori buruk, kemudian mencoba memperbaiki pada pementasan berikutnya, begitu seterusnya.

Ada beberapa hal vital yang membuat pertunjukan teater kita menjadi buruk di mata kita atau mata penonton. Berikut ini adalah hal-hal tersebut:

1. Management kacau

Sebuah pertunjukan atau acara, membutuhkan sebuah kerja management yang rapi, teratur, dan terstruktur. Tanpa pengaturan yang baik, sebuah pertunjukan akan berjalan dengan kacau. Pemilihan seorang pimpinan produksi dan stage menager sama pentingnya dengan pemilihan seorang sutradara. Karena dari orang-orang itulah akan tercipta seni yang lain, yakni seni management.

2. Kurang kesadaran masing-masing individu

Sebuah permasalahan klasik yang terjadi pada berbagai kelompok teater, khususnya kelompok teater kampus dan sekolah. Kesadaran masing-masing individu terhadap perannya merupakan hal yang sangat penting. Semua orang wajib bekerja keras melaksanakan tugas yang diembannya, bukan hanya sutradara, pimpinan produksi maupun stage manager saja. Satu saja anggota kelompok yang tidak melakukan tugas dengan baik akan berpengaruh terhadap jalannya acara, dan secara psikologis akan memperngaruhi tim non artistik maupun tim artistik.

3. Kurang memahami apa yang akan dipentaskan

Memahami sebuah naskah maupun bentuk penggarapan merupakan hal yang wajib dilakukan. Lebih baik menggarap naskah yang berbau realis tapi kita benar-benar paham daripada menggarap naskah yang berbau experiment namun kita tidak memahami isi di dalamnya, akhirnya pertunjukan kita menjadi pertunjukan yang tidak jelas maksud dan tujuannya. Terkadang kita tergoda untuk menggarap naskah-naskah babon namun kita tidak mengetahui dengan pasti bagaimana menggarap maupun isinya, jadi mempelajari hal-hal yang berbau teater itu sudah pasti wajib bagi pelaku teater

4. Kurang latihan

Terkadang teater sangat dispelekan khususnya oleh aktor. Terkadang aktor menganggap remeh peran yang dimainkannya karena mereka menganggap menjadi aktor sama dengan melakukan aktivitas sehari-hari, tidak ada gerakan-gerakan khusus seperti tari ataupun hal-hal lain yang memerlukan keterampilan tinggi. Anggapan tersebut memang tidak sepenuhnya salah, namun menjadi seorang aktor tetaplah harus memiliki keterampilan yang mumpuni, banyak kasus sebuah pertunjukan dengan aktor yang sangat buruk, hal ini membuktikan bahwa bermain peran bukan sesuatu yang mudah. Tim-tim yang lainpun juga memerlukan latihan untuk mensukseskan pertunjukan. Terkadang aktor dipandang sebagai dewa di atas panggung anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Tanpa tim artistik yang lain pentunjukan tidak akan berjalan dengan sempurna. Jika ada satu saja tim yang bermain buruk maka akan berpengaruh secara psikologi terhadap tim yang lain. Latihan seharusnya di adakan seketat mungkin dan semua tim haruslah disiplin.

5. Malas

Malas merupakan kata yang harus dibunuh oleh pekerja teater. Teater merupakan seni yang sekarang ini sedang berkembang di indonesia dan posisinya masih belum matang di mata publik, jika kita memilih teater sebagai media untuk menyalurkan pemikiran kita, maka kita harus bekerja dua kali lipat dalam melakoninya. Berbeda dengan seni-seni lain yang sudah dianggap mapan, seperti musik, untuk mendatangkan penonton dengan jumlah seribu merupakan sesuatu yang mudah. Untuk teater? Mendatangkan penonton dengan jumlah seribu harus berkeringat terlebih dahulu. Kerja teater juga cenderung lebih berat karena dia melibatkan berbagai disiplin seni dan ilmu di dalamnya.

Mungkin masih banyak lagi hal-hal lain yang membuat pementasan kita buruk namun yang lebih penting adalah untuk selalu memperbaikinya disetiap pementasan selanjutnya. Jangan pernah percaya jika pementasan kita bagus, karena sikap tidak puas terhadap hasil yang kita miliki akan membuat pertunjukan besok lebih baik lagi.

Friday, 10 April 2015

4 Langkah Dasar Memanage Seni Pertunjukan

Seni pertunjukan di indonesia sedang menghadapi masalah yang rumit. Permasalahannya tidak jauh dari pendanaan, pendanaan atau income menjadi masalah yang krusial karena berkaitan dengan kelangsungan hidup komunitas yang bersangkutan, sekaligus individu yang ada di dalamnya. Merencanakan atau memanage sebuah seni pertunjukan haruslah diperhitungkan dengan matang. Kita tidak boleh merencanakannya secara asal-asalan.

Dalam ilmu managemen dikenal sebuah prinsip management yakni POAC yang menjadi dasar dalam mengatur segala hal. Dalam dunia management seni pertunjukan POAC juga bisa diaplikasikan namun dalam praktiknya cukup sulit untuk dijalankan. Berikut ini adalah contoh sederhana penerapan pengaturan perencanaan sebuah seni pertunjukan

1. Planing
Planing berasal dari asal kata bahasa inggris yakni "plan" yang berarti perencanaan. Sebelum kita maju ke medan perang kita membutuhkan taktik atau rencana untuk mencapai tujuan kita. Dalam merencanakan sebuah pertunjukan, rencanakanlah matang-matang apa saja yang harus anda lakukan untuk mencapai tujuan. Sebagai contoh: kita memiliki visi menumbuhkan semangat pluralisme melalui seni pertunjukan. Maka kita harus merencanakan pertunjukan apa sajakah yang bisa menumbuhkan semangat pluralisme? kita juga harus mengetahui kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam rencana kita, sehingga kita sudah memiliki persiapan jika kemungkinan terburuk tersebut datang. Dalam perencanaan ini sebaiknya kita memperhatikan lima faktor yakni SMART

  • Spesific. Spesific artinya rencana kita tidak melebar, bisa dilihat dengan jelas dan gamblang ruang lingkupnya. 
  • Measurable.tingkat keberhasilannya dapat diukur dengan objektif. Dalam contoh kasus seperti di atas menumbuhkan semangat pluralisme lewat seni pertunjukan bisa kita ukur dengan memberikan kuosioner di akhir pementasan.
  • Realistic. Artinya sesuai dengan kemampuan kita. Tidak terlalu memberatkan dan tidak terlalu meringankan. contoh: mengenai properti seni pertunjukan kita, kita sudah merencanakan manakah properti yang membuat, mencari, dan membeli agar dana bisa ditekan sesuai dengan kemampuan organisasi.
  • Time. Ada deadline waktu yang jelas. mingguan, bulanan, tahunan. agar mudah dinilai dan di evaluasi

2. Organising

Pengorganisasian atau pembagian kerja. Kita sudah merencanakan dengan matang rencana kita. Sekarang kita membutuhkan panglima untuk memimpin pasukan kita. Pembagian kerja diperlukan karena tidak mungkin semua hal dilakukan oleh satu orang saja. Dalam dunia seni pertunjukan biasanya ada:
  • Pimpinan Produksi. Bisa disebut sebagai ketua panitia, merupakan orang yang bertanggung jawab secara penuh dalam sebuah acara. Bertanggung jawab mengatur semua seksi yang ada di bawahnya.
  • Sekertaris. Bertugas mendampingi Pimpinan Produksi, mencatat hasil di setiap rapat, membuat surat-surat, proposal, dan lain-lain.
  • Bendahara. Bertugas mencatat uang keluar, uang masuk, dan merencanakan pengeluaran dan pemasukan uang.
  • Publikasi. Bertugas mendatangkan penonton atau mempublikasikan pementasan dengan tujuan dihadiri penonton
  • Ticketing. Untuk mengatur alur pembelian, pembuatan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tiket
  • Dll (Seksi-seksi lain yang dipandang perlu) karena sebuah pertunjukan dengan visi dan misi yang berbeda dan tempat berbeda membutuhkan penanganan yang berbeda.
3. Actuanting

Ketika sudah membuat taktik atau planing dan pembagian kerja, yang paling penting adalah pelaksanaannya. Actuanting adalah pelaksanaan yang membutuhkan  kerja keras, kerja cerdas, kerja sama, dan mengoptimalkan kemampuan masing-masing individu di dalamnya. Pelaksanaan haruslah benar-benar sesuai dengan target dan cara yang sudah disepakati jika terjadi hal-hal yang tidak direncanakan seorang pimpinan produksi harus bisa mengambil langkah yang tepat, agar semuanya berjalan dengan lancar.

4. Controling

Untuk membuat semuanya berjalan dengan baik dan benar, perlu dilakukan controling disetiap tahap. Hal ini dimaksudkan agar ada penanganan lebih dini jika terjadi hal-hal yang diluar perkiraan, tidak hanya itu controling berfungsi juga untuk memaksimalkan kerja evaluasi sehingga kita akan tahu, dimanakah kekurangan kita.

Demikianlah 4 langkah dasar memanage seni pertunjukan. Kurang lebih sama dengan managemen dasar. Karena management dasar di atas merupakan ilmu managemen secara umum, sehingga bisa diaplikasikan di semua bidang. Untuk lebih rincinya, saya akan membahas perencanaan management seni pertunjukan secara khusus pada lain kesempatan.

Friday, 20 February 2015

Arkeologi Beha: Ayah dan Ibu

Bagian 2

Pada babak pertama naskah arkeologi Beha sudah dijelaskan tentang kehidupan masyarakat urban, wanita, dan keluarga. Pada babak kedua naskah Arkeologi Beha ini menurut saya terdapat dua bagian. Bagian pertama adalah bagian ibu yang banyak berceramah perihal dapur dan perannya sebagai ibu. Bagian kedua adalah pada huruf yang dimiringkan sampai akhir yang sebagian besar menjelaskan tentang “Azuma”.

Dari interpretasi saya permasalahan sex tidak terlalu kental, kecuali dalam konteks tertentu namun permasalahan sex ini masih ada. Ketika membaca bagian dua naskah ini seolah saya ingat apa yang dikatakan oleh orang-orang didekat saya dulu mengenai wanita, bahwa wanita itu mempunyai 3 tugas dalam hidupnya macak (bersolek), masak (masak), manak (manak). Orang-orang yang berfikiran primitif masih menggunakan pemikiran itu dalam hidupnya. Seolah tugas wanita itu sangat rendah. Hal ini dapat kita lihat pada potongan dialog berikut
“Bawang, cabai, terasi, tauge. Garam ndak perlu. Cukup air ludah ibu. Mulut ibumu dapur tanpa pintu. Semua gigi diselomot jadi kayu bakar.”

Dialog di atas menurut saya cukup menjelaskan tentang bagaimana seorang wanita, bahwa dia adalah dapur, mulutnya dapur seluruh anggota mulutnya adalah dapur, mungkin dia hanya diperbolehkan membicarakan teks dapur. Wanita juga harus melayani seluruh keluarga, hal ini juga terdapat dalam potongan dialog berikut ini.
“Hidup perempuan itu kayak daging dendeng. Dikerat tipis tipis. Dibumbui dan dikeringkan di pelipis bapakmu.
Dicelupkan ke jelantah panas. Lalu disantap seluruh keluarga.”

Sang ibu sedang berusaha membicarakan nasib perempuan dalam sudut pandang jawa (mungkin) karena diksi-diksi yang digunakan adalah diksi-diksi jawa, seperti diksi-diksi peler, dandhang, ngesek, ngrompol, kutang, ghendar, tiwul, mriyayeni dll.
Ketidak setujuan tentang hal ini mungkin ditunjukan dengan sikap absurd dari tokoh ibu, sikap absurd ini berupa kesantaiannya menghadapi kematian, seolah kematian bukan merupakan hal yang menakutkan tapi hal yang biasa saja seperti seorang ibu yang akan pergi ke pasar. Hal ini bisa kita lihat di dua potongan dialog berikut ini
Te, aku ibumu.aku mati nanti malam. Aku siapkan dulu  sarapan pagimu. “
Kemudian
“Wis yo te, ibu tak mati dulu.”

Kemudian masuk dalam bagian yang diberi tanda miring atau “Azuma”. Saya berusaha mencari tahu apa itu “Azuma”? awalnya saya kira “Azuma “ merupakan hewan mitologi dari sebuah peradaban, namun saya tidak menemukan referensi apapun mengenai Azuma ini. Ada kemungkinan si penulis naskah memang mengarang sesuatu yang bernama “Azuma”ini.
Pada bagian terakhir ini bahasa yang ditampilkan mulai menjadi bahasa yang naratif, bahasa yang bercerita dan menjelaskan, seolah mengatakan bahwa bagian ini adalah kesimpulan secara umum. Kemudian sedikit terbuka pula makna dari beha pada naskah ini bahwa beha adalah sesuatu yang harus dibuka karena menutupi sesuati yang murni dan suci atau malah sebaliknya untuk membuka sesuatu yang menakutkan, seperti kutipan dialog di bawah ini.

“Selalu ada neraka dalam tubuh kata kata.
Aku tak sanggup menguburnya. Neraka selalu tumbuh. Kadang tampak seperti ibumu, ayahmu, atau aku. Sebuah beha adalah gerbang untuk membuka neraka yang riang di tegel rumahmu.”

Adegan dan kutipan dibawah ini sedikit unik karena ada proses berinteraksi dengan penonton, proses interaksi ini terjadi dengan melempar cabe kearah penonton seperti bermain bola ping-pong. Adegan ini seperti sebuah adegan performance art (memang banyak adegan performance art dalam naskah ini). Adegan ini mengisyaratkan tentang manusia yang tidak saling mengenal yang bebas melakukan apa saja.  Agaknya posisi beha di sini berbeda dengan yang di atas karena penulis naskah mencoba menerangkan bahwa akal seperti beha yang digunakan untuk menutupi sesuatu yang menyakitkan yang sebenarnya harus kita lakukan atau ketahui, seperti dogma-dogma dalam masyarakat. Berikut ini adalah cuplikan dialognya.

"(TE melemparkan cabe gendot ke arah penonton, seperti memulai permainan ping-pong)

Manusia tidak saling mengenal. Sebuah kisah adalah cara membahasakan kesepian yang tak berjembatan. Tak ada yang lebih buruk dari kisah yang masuk akal. Akal adalah beha.
Beha  adalah kesantunan yang kita bebatkan untuk menahan luapan pelir-pelir yang memuai, dan pedas."


Untuk bagian berikutnya adalah bagian mengenai "Azuma" bagian ini menyusul nanti.

Sunday, 15 February 2015

Arkeologi Beha: Kehidupan Urban yang Rakus

arkeologi beha

Iseng-iseng membaca naskah monodrama Arkeologi Beha Karya Beny Yohanes karena naskah tersebut menjadi salah satu syarat festival monolog Yayasan Lanjong. Beny Yohanes merupakan dosen di STSI Bandung dan karya-karyanya dianggap sebagai naskah babon dalam dunia perteateran di Indonesia salah satunya bisa kita lihat Black Jack, Canibalogy, Bin, Arkeologi Beha, dll. Dari beberapa naskah Beny Yohanes atau kerap disapa Benjon, mempunyai struktur yang unik. Struktur alur Aritoteles benar-benar dicederai bahkan dimutilasi, tokoh-tokohnya juga cenderung tidak jelas bahkan beberapa naskah terkesan seperti orang gila. Latar tempat, waktu, dan sosial nya pun sengaja dihancurkan untuk memperkuat keabsurdan tokoh, sehingga naskah-naskah Beny Yohanes terkesan gelap, rumit, dan susah dimengerti namun Benjon suka membubuhkan hal-hal yang komedi khususnya dalam naskah monolognya sehingga terkesan naskah dramanya berbau black komedi. 

Dalam hal tulisan saya kali ini saya ingin mencoba mencerna naskah monolog Arkeologi Beha. Untuk memamah naskah ini saya tidak memiliki bahan yang lain kecuali biografi penulis yang ada di website kelola.or.id dan tamanismailmarzuki.com. Jadi saya mencoba menyelami diksi dan kalimat yang ada dalam naskah Arkeologi Beha dengan pengetahuan bahasa yang saya miliki dan juga mengaitkannya dengan kehidupan saat ini.

Secara fisik naskah ini terdiri dari dua babak. Babak pertama menceritakan tentang kehidupan tokoh “Te” secara pribadi dan pandangan-pandangannya terhadap agama dan moral khususnya sex. Babak kedua menceritakan tentang kehidupan ibunya peran sebagai ibu dan kehidupan seorang wanita sekaligus ibu dalam sebuah keluarga, namun dalam babak kedua ada sebuah bagian yang sepertinya terpisah atau sengaja dipisah dari konteks tentang ibu yakni penceritaan tentang “Azuma” yang diyakini oleh tokoh sebagai manusia pertama yang hidup di bumi. Dari tiga bagian tersebut saya mencoba menggali hal-hal yang ingin disampaikan dalam naskah Arkeologi Beha ini. Seolah jalinan antar bagian merupakan bagian yang terpisah dan saling bertolak belakang. Penceritaan yang cukup runut kemudian masuk pada bagian-bagian tersebut, seolah pembaca dituntut bermimpi dalam imajinasi penulis. Jalinan mimpi yang kabur menciptkan dunia yang kabur tidak jelas mana benar, mana salah, mana baik, mana buruk. Teks-teks yang dianggap tabu membombardir terus keluar dari dialog pemain dan dari tata artistik seolah ingin kembali menyadarkan pembaca bahwa dunia sendiri juga dibentuk oleh kecabulan dan kemesuman yang dibangun oleh masyarakat, namun masyarakat seolah menutupi hal-hal tersebut dan arkelogi beha ini mencoba menyadarkan kita kembali dan merenungi kecabulan teks dalam masyarakat kita.

Arkeologi Beha, dari konteks judul terdiri dari dua kata yakni “arkeologi” dan “beha”. “arkeologi” merupakan ilmu yang mempelajari kehidupan dan kebudayaan pada zaman kuno berdasarkan benda peninggalannya. “Beha” merupakan penyangga payudara, dalam sejarahnya beha merupakan pengganti korset pada perang dunia II dan penggunaannya terus berlanjut hingga saat ini.

Di awal babak pertama kita sudah dihadapkan pada masalah kontekstual gaya manusia urban seperti kutipan di bawah ini.
SATU

“IRAMA BLUES. LILIN LILIN BIRU MENYALA DALAM NAMPAN KAYU. SEBUAH KITAB SEDANG TERBUKA. TE MUNCUL DARI BELAHAN KELAMBU. KEPALA TE BERSELUBUNG KAIN HITAM. DADA TE TERBUNGKUS HANDUK BIRU. TANGAN TE MENGGENGGAM DAGING BERDARAH.

TE (Menggarang daging di api lilin.Terdengar dering telepon. TE memperlakukan  daging sebagai telepon)

Aku minta cerai. Aku lebih bejat dari kamu. Aku bercinta dengan mobilku. Itu belum apa apa. Minggu lalu lebih buruk. Aku bersetubuh dengan keledai mati. Sekarang ?! (menarik nafas)
Sekarang gila dan memuakkan.
Barusan bersanggama dengan seorang wanita.Dagingnya sih lumayan. Masih berpulsa. Ya! Kucabik sekerat,sekarang kupakai jadi telepon.

Hei, aku minta cerai. Ya! Salam kompak selalu.”

Irama Blues, telpon, daging, mobil, keledai, wanita, dan pulsa menurut saya merupakan diksi kunci dalam adegan ini. Permasalahan konsumerisme dan perceraian sudah bisa kita cium dalam adegan pertama ini. Kemudian peran agama dalam masyarakat juga coba di sentil dengan berani seperti kutipan wawancang dan dialog berikut ini
“(Menaruh gumpalan daging pada Kitab)

Aku pergi kerja. Agama jangan kemana mana. Jaga rumah. Ini untuk makan malam. “

Adegan di atas mengisyaratkan seolah kitap suci dalam sebuah rumah tidak lebih hanya sebagai pajangan saja. Hal ini sama dengan kebudayaan masyarakat yang lambat laun mulai melupakan agama seolah agama hanya syarat keberdaan dalam KTP, Agama hanya teks yang menunjukan eksitensi kita sebagai orang yang beragama, agama gamang dan mati dalam konteks permasalahan-permaslahan moralitas karena keberadaannya tak lebih sebagai alat politik atau alat-alat kepentingan yang lain pada saat ini. Existensi agama juga di senggol pada kutipan di bawah ini.

“(TE membuka selubung kepalanya. Di atas kepalanya terpasang beha plastik bening serupa topi. TE membuka behanya.Sekerompol kondom bekas mencurah dari dalam beha)

aku pelacur. tapi aku kolektor  juga. sedekahku, kondom kondom bekas untuk penduduk yang tergusur.  agama masih sayang sama aku.

(TE memungut kondomnya).

artefak artefak satwa.
untuk pembungkus ketupat, atau hiasan pohon natal. untuk oleh oleh hari nyepi juga bisa.”

Dari teks di atas saya mencoba memeras diksi-diksi menjadi dua kata yakni “Kondom” dan “Agama”. Seolah keberadaan agama tidak bisa mengalahkan keberadaan kondom atau mungkin keduanya mempunyai tempat yang sama-sama penting dalam masyarakat.

(Cahaya lilin dikipas. Mati. Irama Blues merambat.Sepi. Cahaya Biru. )

dulu ayah bilang, setiap anak lelaki punya empat tetek. dua di kepala, dua lagi di lambungnya. kalau kau mulai kawin, istrimu akan menyedot  perlahan dua tetek di kepalamu, untuk dipindahkan ke dadanya. ritme penyedotan itu senada dengan irama penyerahan slip gajimu setiap bulannya. kesuburan tetek istrimu mencerminkan naik turunnya penghasilanmu.

Teks di atas sepertinya mengisyaratkan bagian yang penting dalam naskah monolog ini, karena kemunculannya ditandai dengan bergantinya suasana. Suasana awal yang di rasuki musik blus dan efek cahaya lilin mulai menghilang. Diksi kepala dan slip gaji, merupakan diksi inti. Akhirnya kita sedikit mengetahui kemanakah arah pembicaraan tentang beha dan payudara ini. Keberadaan laki-laki yang ternyata memiliki payudara di kepala disambungkan dengan keberadaan slip gaji yang disedot istrinya. Hal ini memperlihatkan kehidupan keluarga yang memang tidak akan jauh dari kondisi keberadaan uang,

Kemudian diakhir adegan satu, seolah tokoh “Te” kembali memperolok agama dibalik optimistiknya tentang tuhan tersembunyi pesimistiknya tentang tuhan pula

(TE menyentuh Kitab)

agama, kamu belum makan malam ? nggak doyan daging wanita ? ini masalahku, selalu gagal menebak jenis kelamin agama. tapi aku percaya, tuhan itu satu. supaya gampang membunuhnya.

(TE menghidupkan lagu ‘Possesif’ dari NAIF)


Dari jalinan teks pada babak satu ini diksi agama merupakan diksi yang paling banyak disebut. Hal ini membuktikan bahwa pada babak satu, naskah mencoba berbicara tentang agama yang gagal meluruskan kehidupan orang-orang urban yang matrealistik. babak dua Arkeologi Beha: Ayah dan Ibu