Monday, 22 April 2019

Pagi Bening dan Keparadoksannya


Madura. Sebuah kata yang mewakili salah satu suku yang cukup fenomenal di Nusantara ini. Madura sering diidentikan dengan kekerasan, mungkin budaya carok dan sejarah sampit membentuk biografi Madura dengan identitas keras-dan ternyata memang begitu adanya. Di samping watak keras yang telah mendarah daging, madura juga memiliki stereotip yang lain di mata etnis lain. Bahkan Agus R Sarjono dalam cerpen Mahwi Air Tawar Mengungkapkan "Madura selalu menempati tempat khas dan unik di batin bangsa Indonesia. Ada satu masa tak ada lawakan yang tidak ada sosok maduranya, tentu dengan logat bicaranya yang khas." Memang, Madura juga kerap diidentikan dengan kelucuan dan keluguan. Saya memiliki banyak kawan Madura, alih-alih menganggap mereka garang saya malah lebih mampu melihat kelucuan dan keluguan mereka.

Paradoks keras dan lucu itulah yang menjadi watak masyarakat Madura dan itu mampu dihadirkan oleh pertunjukan "Pagi Bening" karya Serafin dan Joaquin sutradara: Anwari yang di pentaskan di Pendopo Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Jember 1April yang lalu sebagai pertunjukan simulasi yang akan dipertunjukan di Salihara Jakarta. Kerasnya sosok wanita: Masbia dalam pertunjukan itu juga nampak dengan keberaniannya menantang sosok Maskat. Kelucuan demi kelucuan juga dinampakan dari pertengkaran dua tokoh itu. Di awal pertunjukan dua tokoh ini berebut tempat untuk duduk melihat pertunjukan "Topeng" kemudian terjadilah percekcokan, bahkan saling umpat dan saling ejek yang akhirnya didamaikan oleh kopi lalu berlanjut obrolan-obrolan santai dan intim yang menceritakan masa lalu orang terdekat mereka yang saling cinta tapi tidak pernah bisa bersatu padahal itu adalah masa lalu mereka sendiri. Mereka akhirnya mengetahui bahwa lawan bicaranya itu (Masbia dan Maskat) adalah mantan kekasihnya. Dua tokoh yang mungkin sudah memasuki usia sekitar 70an itu masing-masing membawa pembantu yang kadang menampilkan kelucuan khas madura, dengan logat dan tingkah polah khas masyarakat udik. Elyda K, dengan piawai mampu mentransformasi teks ini ke dalam budaya etnis Madura (perjodohan sejak dalam kandungan, kehidupan kyai di madura, harga diri, dll.), dia menarik peristiwa-peristiwa PKI ke dalam teks ini yang mungkin akan menjadi sebuah teks yang bermuatan sejarah.

Secara keseluruhan adaptasi teks yang dilakukan sangat rapi. Kerapiannya ini bisa menjadi paradoks: kelebihan sekaligus kekurangannya (setidaknya menurut saya). Jika saya andaikan Elyda sudah mampu mengganti kulit putih manusia sepanyol menjadi kulit coklat manusia madura beserta identitas lain yang menyertainya. Dalam artian struktur dramatik dari teks ini sebenarnya tidak berubah terlalu banyak: eksposisi, komplikasi, evaluasi, dan resolusinya pada tempat dan porsi yang kurang lebih sama dengan naskah aslinya. Hal ini merupakan proses adaptasi yang ketat dengan tidak membongkar satupun kerangka dramatik yang diciptakan pengarangnya.

Pada awal saya mendengar bahwa Anwari akan pentas menggunakan naskah "Pagi Bening" saya menganggapnya sebagai lelucon dengan intensitas kelucuan yang tinggi. Saya seperti mendengar Burger Kill yang ingin menyanyikan lagu Yolanda. Anwari dikenal sebagai seniman teater yang banyak membawa bentuk pertunjukan yang erat kaitannya dengan teater tubuh. Saya jadi kembali mengira-ngira "seperti apa kira-kira pertunjukannya?" Saya membayangkan pengadaptasian dilakukan dengan "liar" menerobos kaidah-kaidah realis dan menjadi dirinya seperti biasa. Saya jadi ingat "Machine Hamlet" karya Heiner Muller, saya kira, adaptasinya akan jadi semacam itu. Dimana Muller mungkin bukan mengadaptasi lagi tapi mendekontrukasi naskah drama "Hamlet" sehingga struktur, tematik, dialog benar-benar dimutilasi kemudian dari potongan-potongannya muncul makhluk yang baru dari kuburan Shakespare.

Tipografi Panggung Parafoks

"Kami mencoba menciptakan ruang-ruang privat antar aktor" ungkap dramaturg pertunjukan malam itu, Yuda. Sementara anwari ingin menghilangkan sekat antara pemain dan penonton

Panggung dibuat menjadi lima ruang (mungkin). Ruang 1: tokoh maskat, Ruang 2: tokoh masbia, Ruang 3: pembantu Masbia, ruang 4 pembantu Maskat, ruang 5: para pemusik. Mereka dengan disiplin berada di dalam ruang masing-masing dan tidak memasuki ruang pemain yang lain meskipun naskah mengharuskan mereka berinteraksi secara fisik hal itu dilakukan dengan seolah-olah. Seolah mereka berdampingan padahal tidak. Seperti cermin yang terbelah-belah.

Tawaran pemanggungan semacam ini cukup menarik. Namun menjadi sebuah kemubaziran ketika aktor-aktor masih ada di panggung yang sama akhirnya penonton masih melihatnya sebagai sebuah kesatuan. Pemanggungan semacam ini memungkinkan tokoh satu dan yang lain tidak berada di lingkup prosenium yang sama. Pemanggungan semacam ini memungkinakan untuk merespon lingkungan sekitar pertunjukan dengan meletakan aktor satu di bawah pohon dan aktor yang lain di tempat lapang dan terbuka atau bahkan di kuburan (jika perlu).

Keparadoksannya juga tidak dikelola secara konsisten. Pecahnya batas panggung dan pentonton hanya diciptakan oleh satu tokoh saja:Masbia. Di awal pertunjukan dia mengatakan bahwa pertunjukan ini akan dimulai, kemudian dia menunjukan kekayaannya dengan membagi-bagikan uang kepada penonton. Tapi pecahnya ruang privat ini tidak dilakukan oleh tokoh yang lain.

Secara keaktoran masing-masing tokoh mampu menunjukan kekuatannya di panggung. Mereka mampu mengolah dan membentuk suasana Madura dengan logat (ketika bicara Bahasa Madura), imajinasi, dan tingkahnya. Secara keselurahan aktor bermain cukup bagus, hanya saja mereka masih terjebak dengan logat Bahasa Indonesia. Entah ini strategi yang digunakan penggarap atau bagaimana? Tapi saya melihat ketika aktor(khususnya Masbia) mendialogan dialog Berbahasa Indonesia kemaduraannya menjadi hilang. Secara Fonetik dan intonasi dia menggunakan milik Bahasa Indonesia logat Maduranya hilang ketika menggunakan Bahasa Indonesia.

Secara individual Anwari susah dipisahkan dengan teater tubuh maupun teater antropologinya (yang masih berbau ketubuhan). Pertunjukan yang memperoleh kehormatan tampil di Salihara pada tanggal 8-9 April ini bagi saya seperti upaya melepaskan diri dari biografi yang dibangun Anwari sendiri. Bukan berarti yang dia lakukan salah tapi saya rasa ini adalah sebuah langkah berkembangnya Padepokan Seni Madura dan Anwari. Sebagai sebuah perjalanan tentu ada tujuan yang ingin dicapai. Dan saya rasa pertunjukan yang indah karya Padepok Seni Madura ini akan mempengaruhi biografi mereka selanjutnya.


Tuesday, 16 April 2019

Kekerasan dalam Dunia Pendidikan dan Emotional Quotient

Masih melekat diingatan kita kasus mengenai seorang anak smp di Gresik yang menantang gurunya. Kemudian berlusin-lusin guru yang dijebloskan ke penjara gara-gara melakukan tindakan kekerasan kepada muridnya dengan dalih bentuk punishment.Ada pula seorang murid di Sampang Madura yang memukul gurunya hingga tewas. Juga yang baru saja menyita perhatian kita semua-selain pilpres- tagar #justiceforaudrey. Dan beragam bentuk kekerasan lain di dalam dunia pendidikan. Semakin maraknya kasus kekerasan di dalam lembaga pendidikan seharusnya menjadi evaluasi untuk selanjutnya pendidikan berevolusi untuk mengatasi berbagai masalahnya.

Kekerasan terjadi karena bentuk pelampiasan dari kemarahan atau emosi yang lain. Kekerasan terjadi karena manusia tidak menemukan cara untuk meredam atau melampiaskannya dalam bentuk yang lain. Maka dari itu menemukan atau mengajarkan cara untuk mempergunakan emosi untuk hal yang positif perlu diajarkan di dalam dunia pendidikan. Bahkan mungkin dimasukan ke dalam kurikulum secara langsung. Bukankah kesuksesan seseorang banyak dipengaruhi oleh emotional quotient?

Ketidakmampuan mengontrol emosi ini bukan hanya menyebabkan kekerasan namun bisa berakibat yang lain: permusuhan, bullying (online atau offline), depresi, bunuh diri, dll.

Internet sebagai penyumbang peradaban terbesar saat ini juga berkontribusi besar untuk memperlihatkan kepada kita sampai dimanakah kemampuan kita dalam mengontrol emosi. Jika anda lihat di dalam kolom komentar sebuah berita yang hangat atau sensasional, di situ bersemayam komentar nyinyir bentuk pelampiasan emosi mereka. Di dalam kolom-kolom komen game onlinepun juga sama, kata atau kalimat pedas bahkan sampai mengumpat akan banyak kita jumpai dan ironisnya banyak di antaranya adalah anak-anak usia sekolah bahkan ada yang masih SD.

Sama halnya seperti kekerasan, kolom komentar yang terkadang menjadi lahan olok-olok adalah bentuk pelampiasan kekesalan karena emosi yang terpancing. Orang-orang ini dengan cepat menggunakam media sosial untuk melampiaskan rasa marahnya. Tidak jarang apa yang mereka lakukan ini justru berbuntut ke penjara karena melanggar UU ITE.

Selama ini yang dipahami oleh masyarakat bahkan oleh sebagian pendidik sendiri, pembelajaran emosional dilakukan dengan memanggil lembaga luar untuk melakukan semacam shock therapy. Menurut saya, hal ini hanya hiburan sehari saja untuk melihat siswa kita menangis secara maraton dalam sebuah ruangan dengan memperdengarkan ilustrasi sedih dan memperlihatkan slide-slide yang berisi gambar-gambar mengerikan. Pendidikan emosional itu perlu dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Emosi itu lebih rumit dan terlalu sedehana untuk ditaklukan dalam sehari. Efek yang cepat juga akan menghilang secepat dia datang.

Pengendalian emosi adalah perang yang paling besar. Melawan musuh besar seharusnya diajarkan mulai dini. Hal ini juga pernah dipesankan oleh Rasulullah: pada saat kaum muslimin selesai Perang Uhud Rasulullah SAW berkata, "Kita baru pulang dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu." Perkataan Rasulullah ini juga patutnya kita jadikan renungan untuk lebih memahami apa yang ada di dalam tubuh kita masing-masing. Dan pendidikan harus mengambil andil dalam peperangan ini.

Tuesday, 25 April 2017

Sekilas Tentang Teater Kaum Tertindas


Konsep ini adalah milik August Boal, seorang dramawan asal Brazil yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak akan terlepas dari tindakan politik, termasuk teater. Jika membaca tulisannya, pernyataannya ini mungkin didasari dari kondisi politik negaranya yang bergejolak pada saat itu sehingga dia menggunakan teaternya untuk menggerakan masyarakat pada usaha revolusi.

Dalam bukunya "Teater Kaum Tertindas" Boal sering menyatakan "Barangkali teater tidaklah revolusioner dalam dirinya sendiri; tetapi tidak usah ragu, ia adalah latihan revolusi!" hal ini merupakan konsep dasar berpikir teater Boal. Bagi dia teater bukan untuk katarsis seperti teater Aristotelian maupun menumbuhkan pemikiran kritis saja seperti konsep Brectian namun teater harus bisa menciptakan revolusi pada penontonnya.

Teater kaum borjuis adalah teater yang mendikte masyarakat dengan segala peralatannya, khususnya aktor. Di dalam Teater Kaum Tertindas, aktor tidak memiliki kuasa apa-apa untuk mendikte penonton mengenai nilai-nilai namun penontonlah yang menentukan nila-nilai tersebut untuk kemudian dimasukan ke dalam panggung. Penonton tidak hanya dijadikan objek mati dalam pertunjukan namun penonton berperan sentral dalam pertunjukan karena dialah subjek pertunjukan sedangkan aktor nyaris dijadikan objek total oleh penonton.

Teater jenis ini adalah metode supaya penonton melakukan tindakan atau aksi yang nyata karena penonton tidak hanya dijadikan objek pasif tapi mereka juga turut menentukan jalan cerita, mengatur aktor, bahkan mereka bisa saja bermain di dalamnya (Spek-aktor).

Penontonlah yang paling mengetahui apa yang mereka inginkan dalam sebuah permasalahan. Apalagi itu permasalahan yang menyangkut dirinya. Hal ini pernah diceritakan di sebuah wawancara bahwa dia pernah melakukan pentas untuk komunitas petani di daerah timur laut Brazil, pemain utama angkat pedang dan berkata “Kita tumpahkan darah demi tanah kita” mereka bernyanyi, menari, berakting, dan berpakaian seperti petani, mereka Nampak seperti petani tapi sesungguhnya bukan. Dan mereka berteriak “Kalian harus tumpahkan darah! Darah kita untuk selamatkan tanah kita!” lalu seorang di antara petani (sungguhan) yang menonton berkata “Kalian berpikir seperti kami dan kalian punya pedang bagus di panggung. Kenapa tak bawa pedang kalian dan bersama kami melawan tuan tanah yang merampas tanah kami? Mari tumpahkan darah kita. Boal dan kelompoknya menjawab “Maaf, tapi ini bukan pedang sungguhan. Ini hanya pedang untuk perlengkapan panggung” petani itu berkata lagi “oke itu pedang palsu, tapi kalian punya kebaikan, itu senjata abadi. Mari berjuang bersama kami.” Boal kembali menjawab “Tidak. Kami adalah seniman, bukan petani sebenarnya” petani itu berkata lagi “saat seniman berkata ‘tumpahkan darah kita’ kalian bicara tentang darah sebenarnya dari kami, petani sebenarnya. Bukan darah kalian”. Akhirnya Boal menyadari bahwa kita tak bisa menyampaikan pesan pada perempuan sebab kita lelaki, pada kulit hitam sebab kita kulit putih, pada petani sebab kita orang kota. Tapi kita bisa bantu menemukan cara berjuang mereka sendiri

Dari hal tersebut dia sadar bahwa penonton sendirilah yang mengetahui jalan keluar manakah yang pas untuk kondisi mereka dan nilai-nilai apasajakah yang bisa mereka pegang. Teater konvensional bagi Boal terlalu memaksakan kehendaknya mengenai sebuah pemikiran, karena setiap tempat memiliki kebudayaan dan adat yang berbeda maka mereka juga memegang nilai-nilai yang berbeda.

Untuk mencapai keadaan-keadaan yang revolusioner pada tubuh penonton, Boal menggunakan beberapa metode. Sebenarnya metode-metode ini mirip dengan teater game. Metode-metode yang digunakan Boal rata-rata mungkin sudah pernah kita pelajari dalam latihan dasar teater kita sebelum memasuki naskah, hanya saja diterapkan pada saat pertunjukan pada penonton.




Monday, 17 April 2017

Catatan Hatedu Pawon Carklacer

Bagi saya hatedu itu hanyalah sebuah nama dan sebuah formalitas untuk bersama-sama berpentas. Teater dalam perjalanannya mulai digantikan oleh media elektronik namun teater dengan segala tetek bengeknya masih menawarkan artistik dan daya pengucapan yang tidak bisa digantikan dengan layar smartphone: Keintiman, kejujuran, dan kemurnian.

Pertanyaan berikutnya yang perlu dijawab adalah seberapa pentingkah teater untuk sebuah peradapan? Di masa lalu teater dianggap sebagai sesuatu yang diperlukan untuk merefleksikan kehidupan, ritual, dan simbol sebuah peradapan. Namun hari ini? Apakah teater masih bisa menjadi barometer itu semua atau perannya sudah habis? Dan digantikan dengan bentuk yang lain. Apakah yang terjadi jika masyarakat kehilangan teater?

Masih banyak sederet pertanyaan existensial mengenai teater yang harus kita jawab bersama untuk selanjutnya kita putus kan akan kita hidupkan atau bunuh bersama-samakah teater?

Dalam momen Hatedu ini, Pawon Cerklacer yang bekerjasama dengan berbagai komunitas mencoba menjawabnya dengan mengumpulkan berbagai pertunjukan untuk kita renungkan bersama layakah teater tumbuh di antara peradaban kita hari ini? Atau mari bersama-sama kita akhiri peradaban teater kita.

Nayla dan Imajinasi Yang Runtuh

Sex, wanita, tubuh, dan imajinasi mungkin serangkaian laku teater dalam kamar laki-laki.

Panggung yang dibiarkan remang dengan sorotan layar monitor menerpa wajah aktor dengan samar-samar kemudian muncul lagu seriosa yang menambah suasana gotik dalam gedung PKM membuka pementasan malam itu. Ada layar LCD proyektor yang terlihat membuka folder dan dilanjutkan membuka microsoft word. Dari sini saya merasakan kedekatan yang monumental dalam atmosfir yang tersusun pada malam itu.

Aktor melanjutkan perjalanan cerita malam itu dengan mengetik dalam gelap yang remang. Seluruh pertunjukan dirajut dengan suara ketikan cerpen Jenar Maesa Ayu yang berjudul "Menyusu Ayah" yang menceritakan kisah seorang anak yang sedari kecil menyusu kemaluan ayahnya yang akhirnya berakhir pada kehamilannya lalu diakhiri kemunculan aktor yang menegaskan bahwa dirinya adalah Nayla, kemunculannya yang meruntuhkan segala bangunan yang disusun dari puing-puing dramaturgi (realis) yang ia kacaukan sendiri. Kemunculan yang akhirnya meruntuhkan dramaturginya sendiri.

Imajinasi kita sebagai penonton yang membaca terbangun bersama alunan lagu seriosa yang dijejalkan ke dalam telinga kita. Sebuah pertunjukan yang berbasis gagasan. Mengedepankan idealisme untuk menyampaikan gagasan dengan konsep pemanggungan untuk memperkuat gagasannya.

Keberadaan wanita dengan segala imajinasi liar mengenai tubuh dan keber-ada-annya dalam sudut pandang pemuas hasrat terbangun dalam imajinasi saya sebagai penonton. Cerita itu merajut visual dirinya dalam kepala saya dengan alunan musik seriosa. Namun sungguh sangat disayangkan kemunculan aktor diakhir yang tidak memiliki kekuatan apa-apa dan kesannya menjadi tempelan dan formalitas belaka.

Badogan:Perut Mengalahkan Kepala

Badogan adalah bahasa Jawa yang paling kasar yang menggantikan diksi mangan, nedho, madang (baca:makan) dll.

Badogan sebuah pertunjukan nirdialog yang disuguhkan dengan gagasan yang gurih oleh STJ (studiklub teater jember). Gagasan yang akan terus tumbuh dan berganti kulit. Saya jadi ingat salah satu potongan puisi Rendra yang berjudul "Sajak Orang Lapar" bunyinya seperti ini

" Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin
Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan
Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran"

Antara puisi Rendra yang berjudul "Sajak Orang Lapar" dan pertunjukan STJ mewakili semangat yang sama. Kelaparan mampu mengalahkan logika, etika, moral, apalagi kebudayaan. Kelaparan mampu berevolusi menjadi kerakusan, kediktatoran, lalu menegaskan keberadaan manusia yang sama dengan hewan.

Pertunjukan yang 75%isinya adalah adegan makan (imajinatif maupun sebenarnya) dan saling memakan, mengisi relung-relung sudut panggung dengan gruping-gruping yang tersusun rapi dan renyah. Ada dua aktor di sisi kanan dan kiri yang terlihat membangun dimensi yang berbeda dengan pertunjukan yang ada ditengahnya. Seolah aktor yang ada di kanan adalah pencatat dengan aksi yang terus mengetik dengan mesin tik dan aktor di kiri (yang diperankan pak ajiz, sutradara) adalah pembaca yang terus membaca koran. Seolah peristiwa kelaparan yang terjadi di tengah adalah rangkaian huruf yang membentuk sejarah manusia dan akan terus berubah narasi namun memiliki saripati yang sama.

Anak Angsa Yang Ingin Mencapai Bulan


Sebentar, kenapa saya menulis judul yang seperti ini? Entahlah, saya akan mencoba mengupas pertunjukan Teater Angsa dari SMK 5 Jember meskipun saya tidak konsen dalam melihatnya karena saya dalam kondisi deg-degan sebab setelah ini saya juga pentas. (Paragraph gak penting)

Hmm... Tubuh se imut mereka sedang mengartikulasikan tragedi hilangnya para aktipis. Ini adalah seauatu yang sah dan merupakan bentuk menolak lupa terhadap sejarah kelam bangsa ini. Seandainya semua anak SMA seperti itu, borok penguasa negeri akan terus melekat dalam ingatan kolektif kita dan menegaskan pemerintah itu bukan ayah kita sepenuhnya tapi mereka juga musuh kita yang patut kita curigai.

Meskipun secara pertunjukan mereka mengusung konsep nonrealis namun dalam akting mereka masih mencoba menjadi orang lain dan di sinilah mereka perlu belajar menubuhkan tokoh atau memanggungkan tubuh

Tubuh-tubuh yang dijejali tema yang jauh dari sejarah tubuh mereka terlihat cukup jelas. Sehingga keragu-raguan tubuh terlihat cukup miris. Rajutan tubuh yang ragu-ragu menemani atmosfir pada malam itu. Saya merasa ada jarak yang cukup jauh antara tubuh, adegan, dan diksi-diksi yang mereka sampaikan mungkin observasi yang mereka melakukan adalah observasi alakadarnya ( hanya dari lagu efek rumah kaca). Padahal tema-tema semacam ini adalah tema yang sensitive dan memerlukan observasi mendalam agar tubuh aktor-aktornya mampu menangkap spirit temanya sehingga tubuhnya tidak hanya bergerak namun juga menyemburkan aura tema yang mereka angkat. Akhirnya adegan-adegan yang seharusnya kuat menjadi hambar.

Kurma Dan Hal-hal Yang Tak Tersampaikan

Saya harus gimana ya memulainya? Soalnya saya yang menyutradarainya sekaligus menjadi aktor, masak iya, saya juga mencoba mengkritik pementasan saya sendiri. Biarlah ini menjadi catatan pribadi saya sebagai penggarap.


Konsep saya adalah mengaburkan dinding ke empat yang memisahkan antara penonton dan alam panggung. Sebenarnya tujuan saya adalah konsep pemanggungan Brecht yang mampu merangsang daya kritis penonton dengan menyadarkan mereka bahwa ini hanyalah pertunjukan. Tapi entahlah, bentuk pertunjukan yang mirip dengan konsep pertunjukan tradisi ini menawarkan komedi sebagai pembalut gagasan-gagasannya. Jangan-jangan penonton tidak melihat pertunjukan sebagai sesuatu yang perlu dikritisi namun melihat pertunjukan sebagai sesuatu yang harus ditertawai. Mengingat tradisi menonton kita cenderung menertawakan mungkin kita bangsa yang suka menertawakan orang lain, seperti tradisi-tradisi teater yang diadopsi televisi, mereka membuat teater harus ditertawakan.

Jangan-jangan bentuk alienasi pertunjukan ini justru membuat mereka lupa dengan kehidupan mereka karena humor yang disampaikan justru membuat orang lupa terhadap esensi yang ada di dalamnya. Itulah kelemahan bentuk pemanggungan ini. Humor di dalam tradisi kita selalu dipandang sebagai obat lupa, obat lupa terhadap segala carut-marutnya kehidupan kita.

Teror Botol yang Hoax


Sebelumnya saya tegaskan, saya hanya melihat gladinya saja. Pementasan dari teater gelanggang ini menawarkan akting yang menjadi diri sendiri yang sibuk dan bermain-main seperti mereka setiap harinya.

Saya pernah menonton pementasan Teater Gelanggang beberapa tahun yang lalu bersama UKM Kesenian UNEJ dan saya rasa pementasan mereka yang kemaren, "Anatomi Botol" merupakan bentuk pembuktian mereka bahwa mereka sudah berkembang dan mulai menemukan bentuk mereka.

Banyak sekali suara botol jatuh, suara botol digesek-gesek. Botol secara audio meneror penonton. Banyak botol dilempar-lempar, botol digantung-gantung bahkan beberapa kepala mereka diganti dengan galon. Teror botol secara audio maupun visual mengepung gedung pertunjukan malam itu, menjadikan gedung banjir botol.

Menegaskan bahwa kita masyarakat urban tidak bisa jauh dari barang-barang plastik atau botol plastik. Namun yang menarik adalah seolah-olah botol di sini memiliki makna ganda, selain botol secara sebenarnya, sutradara ingin mengarahkan botol sebagai simbol media. Botol yang ditiup hoax, botol yang dijadikan alat komunikasi, presenter yang menarik penonton untuk di interogasi pertanyaan hoax dan melahirkan jawaban-jawaban hoax secara sepontan namun terstruktur.

Pertunjukan ini sebagian besar dirajut dari jalinan laku performance art. Di dalam perfotmance art tidak ada akting, dan tipuan., semua dilakukan dengan jujur dan apa adanya.

Namun yang menarik adalah explorasi kawan-kawan gelanggang yang tetap tidak meninggalkan siapa mereka? Dalam artian explorasi yang mereka lakukan adalah guyonan mereka setiap hari jadi bagi yang mengenal mereka, yang mereka lakukan adalah main-main dan celoteh mereka sehari-hari. Mereka hanya mentransfernya ke dalam bentuk pemanggungan. Bahkan sebelum masuk mereka sempat bermain-main di luar panggung, main-main yang meneror penonton dengan kebisingan suara botol digesek dan celotehan-celotehan mereka.

Namun bagi saya ada sebuah kesayangan yang berupa inkonsistensi dalam pertunjukan itu. Mungkin mereka ingin memberikan aksen tertentu atau apa? namun saya merasa ada sebuah adegan yang kurang pas (di hati saya), yakni: ketika masuk gerakan butoh dalam tubuh aktor berkepala galon, mereka akhirnya mencoba keluar dari dimensi awal yang mereka bangun yakni dimensi kejujuran dan kepolosan mereka dari rangkaian akting performance art. Di awal mereka menawarkan tubuh yang polos dan tanpa tendesi untuk "menjadi" namun diruntuhkan oleh tubuh butoh mereka sendiri.

Hartedu Itu Cuma Alibi

Entahlah. Bagi saya pribadi Hatedu hanyalah sebuah alibi untuk bersama-sama pentas. Tidak ada cita-cita yang muluk-muluk bagi saya meskipun sebenarnya ada rangkaian acara yang tidak terlaksana namun bagi saya bisa pentas dan melihat bagaimana kelompok lain juga memiliki semangat yang sama, sudah cukup.


Sebuah pertanyaan penting yang harus dijawab oleh para pelaku teater malam itu adalah “Kapan Pentas Lagi?”

Thursday, 13 October 2016

Nang Ning Nung dan Jiwa Puisi yang Mengambang

Bertamu

Malam minggu itu cukup kelabu bagi saya karena saya tidak memiliki jadwal yang menyenangkan. Hal itu berubah, tatkala melihat berbagai poster yang terpampang menjadi DP kawan-kawan saya di BBM. Poster itu adalah poster acara Nang Ning Nung Puisi, sebuah acara yang bertajuk musikalisasi puisi, diadakan oleh komunitas Rimbun Melingkar yang bekerjasama dengan berbagai komunitas. Poster-poster itu akhirnya membangkitkan napsu saya untuk mendatanginya, sekedar mengisi waktu luang di malam minggu, tidak ada alasan lain, apalagi hanya untuk melihat dedek-dedek mahasiwa yang ciamik, kalaupun ada, ya itu merupakan rejeki anak soleh.
nang ning nung puisi
foto air terjun panduman


Saya mendapat kabar bahwa acara itu berada di desa Panduman di padepokan Sukma Elang. Saya sempat salah tafsir mengenai nama ini, awalnya saya membaca huruf “e” dalam kata “elang” adalah burung elang yang biasa dijumpai dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia namun penduduk sekitar membaca huruf “e” ini seperti membaca huruf “e” pada kata “nenek” akhirnya jadilah dia “elang” dalam bahasa Madura adalah “hilang” jadi saya interpretasikan bahwa “Sukma Elang” berarti jiwa yang hilang meskipun interpretasi ini salah lagi, ternyata “sukma” dalam bahasa Madura setempat adalah parit.

Singkat cerita, berangkatlah saya ke sana dengan seseorang, sayangnya dia laki-laki. Kami Tanya kesana kemari mengenai TKP. Akhirnya sampailah kami di desa Panduman, di sinilah cerita dimulai. Di desa panduman kami bertanya mengenai lokasi padepokan Sukma Elang, hampir semua makhluk hidup yang kami tanyai selalu mengatakan jalan ke sana sangat susah kemudian mereka melihat MX merah petarung saya lalu mengatakan “lebih baik kembali saja kisana apalagi sudah malam, jalanan susah dan jaraknya jauh”.

Di sinilah mental dan tekad saya diuji, sepertinya jalan untuk sampai ke sana sangatlah susah namun saya tetap ngeyel untuk berangkat. Ternyata benar, jalan menuju tempat itu sangat susah, di awal-awal, masih lancar jaya namun sekitar 10 KM mau sampai di TKP di sinilah tekad kita diuji. Jalanan yang bertekstur batu lancip yang biasa digunakan untuk mengaspal jalan namun dalam kasus ini jalannya tidak diaspal, hanya batu-batu lancip nan licin yang menutupi tanahnya, ditambah lagi kondisi jalan yang menanjak, di samping kiri saya jurang yang cukup aduhai, kondisi yang gelap menambah suasana mencekam, dan kondisi yang sangat sepi membuat saya tambah keki. Terbayangkan? bagaimana sebalnya saya kala itu? Bahkan kawan saya sering saya suruh turun karena sepeda saya tidak kuat di beberapa tanjakan tinggi dan medan yang membuat saya tidak yakin dengan skill bersepeda saya. 

Lebih Dekat Dengan Langit

Dengan tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran Allah dan mengikuti sinar terang diujung bukit, sampailah saya di sebuah tempat yang menjadi altar ritual pada malam itu. Awal saya sampai, saya langsung berpikir “sukma saya benar-benar hilang karena sudah tersesat ke tempat yang belum pernah terpikirkan bagi saya”.  Banyak sekali para Jemaah Nang Ning Nung Puisi yang duduk hikmat menyaksikan para penampil.
Penampilan kawan-kawan Imasind

Sayangnya, saya sedikit terlambat dan hanya melihat penampilan beberapa grup saja di antaranya adalah penampilan Tamasya sebuah band independen Jember yang banyak mengkritisi persoalan alam. Penampilan yang sangat menarik dari mereka ketika mereka ingin menyanyikan sebuah lagu, mereka mengatakan bahwa eksploitasi alam bukan hanya sekedar mengeruk kekayaan alam saja namun masih banyak bentuk lain dari eksplotasi alam. Salah satunya dengan mengambil gambar alam lalu menyebarkannya dan tidak melakukan apa-apa yang bermanfaat bagi alam. Ini juga merupakan bentuk pemerkosaan terhadap alam. Dalam keadaan yang sangat cair dan lantunan music folk, ditemani dengan udara dingin khas gunung, dan kerlap-kerlip lampu kota yang terlihat dari atas, benar-benar menambah kekhusukan suasana pada saat itu.

Penampil yang lain adalah IKL dari kalisat (saya lupa apa singkatan dari IKL).  Mereka hanya datang bertiga, sebenarnya masih ada personel yang lain namun di tengah jalan sisa personel yang lain memutuskan untuk turun karena tidak kuat dengan kondisi jalan yang ada. Inilah yang membuat tempat ini begitu unik, kondisi jalan yang menyebabkan putus asa, jadi orang-orang yang datang di tempat ini adalah orang-orang bertekad baja dan keras kepala. Yang saya salutkan dari grup ini meskipun porsonel mereka tidak lengkap mereka masih mau tampil sebenarnya bisa saja grup ini membatalkan penampilan mereka. Tiga orang ini benar-benar orang yang ulet dan bertanggung jawab.

Ada pula penampilan kawan dari Bogor yang berasal dari komunitas Rumah Sebro. Kawan kita dari Bogor ini datang berdua namun yang tampil satu orang dibantu oleh mas Ghuiral (musisi kontemporer Jember) yang saya kagum dari Ikhsan, penampil dari Bogor ini adalah keberaniannya menampilkan mantra Jawa dengan logat Sundanya yang sangat kental. Hal ini menimbulkan rasa-rasa yang cukup aneh, ganjil, tapi tidak buruk. Dia menjadi sebuah dimensi mantra yang lain yang mengantarkan pada dimensi-dimensi spiritual yang sulit didefinisikan. Ikhsan dan Ghuiral menampilkan beberapa musikalisasi puisi yang sangat apik, dengan alat saxofon yang dipegang oleh Ikhsan dan gitar yang dipetik oleh Ghuiral menambah perasaan-perasaan yang susah didefinisikan.

Ada pula beberapa penampilan lain yang tidak kalah hebatnya diantaranya adalah Imasind, Malam Puisi, beberapa kawan dari UKM, dll. Pada malam itu menjadi malam mereka untuk saling menyapa dengan puisi yang dibalut dengan bunyi-bunyian.

Puisi Adalah Roh

Salah satu hal menarik yang terjadi di malam itu adalah diskusi mengenai musikalisasi puisi. Diskusi ini dimoderatori oleh Kholid Rafsanjani,  dia adalah tukang kebun Siksa Kampus, pembicaranya adalah Ghuiral sang musisi experimental Jember, dan Halim Bahris yang seorang penyair muda dan berbahaya dari kota pisang Lumajang.
Kiri Ghuiral, Tengah Kholid, Kanan Halim

Diskusi itu berjalan dengan cukup menarik bagi saya, percakapan mengenai struktur  puisi, puisi sebagai sebuah semangat, sampai pada puisi dalam pendidikan. Dalam diskusi yang membicarakan musikalisasi puisi, saya menemukan sesuatu yang baru, bahwa sebuah genre atau nama sebuah bentuk tidak hanya dilihat dari fisiknya, dalam hal ini struktur dan unsur pembentuknya namun sebuah penamaan bentuk bisa dilihat dari proses kelahirannya.

Hal inilah yang terjadi pada musikalisasi puisi yang kami sepakati malam itu bahwa musikalisasi puisi bukan sekedar puisi yang diberi musik atau dilagukan tapi musikalisasi puisi adalah semangat mencipta musik yang dilatar belakangi oleh puisi.

Dalam pembicaraan malam itu puisi bukan hanya menjadi bentuk huruf yang disusun berbait, atau sederet kata-kata yang menciptakan gaya bahasa tertentu untuk menyampaikan maksudnya tapi puisi lebih dari itu. Puisi menjadi semacam semangat dalam mencipta sebuah karya. Puisi tidak hanya ditemukan di dalam bahasa namun puisi bisa muncul dalam desain, film, musik, bahkan puisi bisa ditemukan pada arsitektur bangunan.

Semangat puisi yang saya tangkap pada malam itu adalah semangat mencipta yang berani keluar pada arus utama budaya populer. Semangat puisi menjadi semangat pencarian dimensi-dimensi artistik yang baru yang didasari pada kegelisahan-kegelisahan yang tak berujung. Puisi bukan hanya menjadi ajang akrobat kata, dimana kita menumpuk satu kata dengan kata yang lain dan akhirnya kertas hanya menjadi arena  sirkus kata-kata.

Namun yang menjadi masalah bagi saya pada malam itu, puisi terlalu dinilai subjektif dan terlampau abstrak. Hal ini saya maklumi karena seorang seniman biasanya menolak membaca sesuatu secara objektif dengan membongkar bagian-bagian yang merekatkannya namun kita sebagai orang awam biasanya lebih memahami belajar sesuatu dari yang kongkret kemudian menuju sesuatu yang lebih abstrak.


Secara kesatuan yang utuh, malam itu menjadi malam yang harmoni, disaksikan oleh bintang-bintang yang sedikit dekat dengan kami dan kabut yang menjadi selimut dalam tidur kami meskipun paginya saya harus kembali turun gunung untuk melaksanakan tugas. Semoga acara semacam ini bisa dilangsungkan lagi dan tidak menjadi kembang api yang meledak, meninggalkan aroma karbit, dan akhirnya tertiup angin.

Tuesday, 4 October 2016

Cara Mengkonversi Teks Laporan Hasil Observasi Ke Dalam Bentuk yang lain


“Konversi” berasal dari kata bahasa Inggris “convert” yang berarti mengubah. Sebenarnya kita bisa mengubah segala macam teks ke dalam bentuk teks yang lain bahkan kita bisa mengubahnya dalam bentuk nonteks.

Mengonversi teks itu sangat mudah, kita hanya perlu memahami teks awal (yang akan dikonfersi) dan teks akhir (bentuk akhir konversi). Maksud memahami di sini adalah kita paham struktur dan unsur pembangun teks awal dan teks akhir tapi jika anda sering membaca teks tersebut, anda hanya perlu menggunakan intuisi (insting, perasaan) anda saja, tidak paham unsur dan strukturnnya pun tidak apa-apa yang jelas anda bisa membendakan teks tersebut dengan teks yang lain meskipun jawabannya tidak teoritis.

Berikut ini saya sajikan cara mengonversi teks laporan hasil observasi. Sebenarnya cara ini bisa anda lakukan pada semua jenis teks. Cara ini bukan satu-satunya cara. Anda bisa menciptakan cara anda sendiri asalkan anda nyaman. Dalam contoh ini saya akan menunjukan bagaimana mengubah teks “Komodo” dalam buku paket bahasa Indonesia kelas X semester 1 ke dalam bentuk beberapa bait pantun.

Komodo

Tahukah kalian hewan melata apakah yang paling besar? Hewan itu adalah komodo. Hewan itu hidup di semak-semak belukar dan di daerah hutan sejumlah pulau di Indonesia

Komodo adalah hewan melata terberat di dunia yang mempunyai berat 100kg atau lebih. Komodo terbesar yang pernah diukur mempunyai panjang lebih dari 3 meter dan berat 166 kg, tetapi ukuran komodo rata-rata yang hidup secara liar adalah sekitar 2,5 meter dengan berat 91 Kg.

Komodo mempunyai kulit bersisik yang berwarna abu-abu, moncong yang lancip, tungkai lengan yang kuat, dan ekor yang berotot. Komodo menggunakan indra penciuman yang tajam untuk mendeteksi keberadaan bangkai hewan yang terletak beberapa kilometer di kejauhan. Komodo memburu hewan melata lainnya, seperti hewan mamalia yang besar, bahkan kadang-kadang bertindak sebagai hewan kanibal.

Hampir semua bagian gigi komodo tertutup oleh gusi. Ketika komodo sedang makan, gusinya berdarah dan menjadi media ideal bagi berkembangnya bakteri yang berbahaya. Bakteri yang hidup dalam air liur komodo menyebabkan darah korban yang digigit keracunan. Komodo akan menggigit hewan mangsanya lalu membuntutinya sampai hewan itu lemas tidak berdaya untuk dibawa pergi
Spesies hewan melata ini terancam punah. Kenyataan itu, antara lain, disebabkan oleh kegiatan perburuan yang tidak bertanggung jawab, terbatasnya hewan yang menjadi mangsanya, dan habitatnya yang rusak.

1.       Baca baik-baik teks anda dan cari tema mayor.



Cara pertama tentu saja membaca teks yang akan anda ubah, dengan begini anda akan mengetahui isi dari teks tersebut. Setelah anda selesai membaca keseluruhan, buatlah sebuah kalimat atau kata kesimpulan yang mewakili seluruh teks tersebut. Kata atau kalimat kesimpulan tersebut adalah tema mayor dari teks yang anda baca. Anda tidak perlu bingung jika anda tidak tahu cara mencarinya secara teoritis, cukup gunakan intuisi anda.

Pada langkah ini kita sudah memiliki satu tema mayor (ide pokok keseluruhan).  Ide pokok secara keseluruhan dari teks di atas adalah “kehidupan dan seluk-beluk hewan Komodo”.

1.1 Ubah Tema Mayor yang Anda Miliki

Sekarang kita sudah memiliki tema mayor dari teks komodo lalu buatlah isi pantun yang memiliki arti yang sama dengan tema mayor di tersebut. Contoh:

Ijinkan saya menceritakan kawan
Tentang kehidupan hewan komodo

1.2 Buat Sampiran

Lalu carilah sampiran yang pas untuk isi di atas

Si Ikan nila memakan bakwan
Si kerang kehabisan bungkusan kado

Maka jadilah pantun

Si ikan nila memakan bakwan
Si kerang kehabisan bungkusan kado
Ijinkan saya menceritakan kawan
Tentang kehidupan hewan komodo


2.       Cari tema Minor

Sama dengan mencari ide pokok pada poin nomer satu namun di sini anda membagi atau memecah teks anda ke dalam beberapa bagian. Karena yang kita ubah adalah teks laporan hasil observasi (teks ilmiah, nonfiksi) maka carilah ide pokok masing-masing paragraf. Jika anda bingung cara mencarinya, cukup buat kalimat kesimpulan dari paragraf tersebut atau cari kalimat utamanya.
Tema minor pada paragraph pertama adalah “komodo adalah hewan melata yang paling besar”.

2.1 Ubah Tema Minor

Sekarang buatlah isi pantun yang memiliki makna kurang lebih seperti ide pokok pada paragraph pertama. Contoh:

Hewan melata yang paling besar
Adalah hewan komodo

2.2 Kemudian buatlah sampirannya

Cari permata di tengah pasar
Pasar permata di menado

Lalu jadilah

Cari permata di tengah pasar
Pasar ada di menado
Hewan melata yang paling besar
Adalah hewan komodo

Nah sekarang coba kalian buat pantun berdasarkan teks komodo. Masih tersisa tiga paragraf lagi dari teks komodo yang bisa kalian konversi dalam bentuk pantun. Kalian bisa menuliskannya di kolom komentar di bawah ini.

Friday, 10 June 2016

Resensi Buku Metamorfosis

Resensi Kumpulan Cerpen Metamorfosis Karya Franz Kafka

Ketika aku masih bekerja di salah satu café di Jember. Aku bertemu dengan seorang kawan lama, seorang yang dipanggil-panggil sebagai budayawan muda, Halim Bahris namanya. Pertemuanku dengan Halim tidak akan membahas masalah percintaan atau masalah perkawanan kami. Hubungan kami terlalu formal untuk membahas masalah-masalah seperti itu, akhirnya kami memutuskan untuk membahas kesibukan kami dan karya kami.

Aku berkarya dalam bidang teater, tentu saja banyak karyaku yang berbentuk pertunjukan atau teks drama. Aku cukup kaget dengan Halim yang tiba-tiba membuat kesimpulan bahwa aku dan karyaku cocok dengan penulis bernama Kafka, aku tidak mengenal nama Kafka sebelumnya lalu aku telusuri di berbagai searh engine dan website yang tersebar di dunia maya. Singkat cerita aku sudah selesai membaca biografi Franz Kafka dan alangkah berdosanya aku yang seorang calon guru Bahasa dan Sastra Indonesia tidak mengenal Kafka, barangkali aku tidak hanya pantas dicap sebagai penderita rabun sastra tapi sudah patut dicap sebagai kafir sastra.

Aku tidak paham dengan maksud kata “cocok”  yang diungkapkan Halim, mungkin cocok yang dimaksudkan lebih kepada selera bukan kesamaan bentuk karya karena terlalu kurang ajar jika menganggap karyaku sama dengan karya Kafka. Aku tidak akan membahas biografi Kafka di sini, anda bisa membacanya di Wikipedia. Aku ingin membahas buku Metamorfosis dari sudut pandangku secara pribadi.

Kafka merupakan seorang yang bekerja di perusahaan asuransi. Menurutku ini merupakan sesuatu yang unik. Aku jarang mendapati seorang penulis besar yang bekerja semacam ini. Kebanyakan para penulis besar setahuku bekerja dalam bidang jurnalis, percetakan, dan lain-lain yang berhubungan dengan kepenulisan bahkan ada yang hidup dari tulisan-tulisannya atau hidup dari kesenian. Tapi kafka lain, sehingga karya-karyanya benar-benar lain. Banyak penulis yang menulis tentang kehidupan masyarakat modern atau urban tapi tidak ada yang lebih dalam dari Kafka karena dia masuk menjadi masyarakat urban itu sendiri.

Secara bentuk yang terlihat Kafka banyak bermain di wilayah fantasi, dan pesimisme masyarakat modern. Karyanya indah jika dibayangkan dan menggoda untuk diimaginasikan. Seperti karyanya yang berjudul “Metamorfosis”. Di awal aku membaca metamorphosis aku cuma bisa geleng-geleng, pasalnya paragraf pembuka berbunyi “Ketika Gregor Samsa bangun suatu pagi dari mimpi-mimpi buruknya dia menemukan dirinya berubah di atas tempat tidurnya menjadi seekor kecoa yang menakutkan” (Kafka:137) aku merasa heran dengan kalimat pembuka ini. Begitu terang dan apa adanya, membuat aku ingin membaca kisah lanjutannya, dan terasa sekali kesan imaginatifnya. Menurutku ini adalah kalimat pembuka cerpen yang paling fenomenal yang pernah ku baca.

Secara teknis aku juga tidak begitu memahami buku “Metamorfosis” ini masuk dalam buku jenis apa? Apakah antologi puisi, antologi cerpen? Atau buku jenis yang lain? Karena di dalamnya terdapat jenis tulisan yang terlalu pendek untuk menjadi sebuah cerpen. Di dalam buku “Metamorfosis” karya Kafka ini ada sebuah karya yang berisi satu paragraph saja. Saya mengira-ngira mungkin ini adalah salah satu bagian eksperimentasi Kafka terhadap cerpen.

Secara kebahasaan saya juga sedikit bingung dalam memahami isi dari cerpen-cerpennya. Mungkin perbedaan kebudayaan kami menjadi salah satu penyebabnya. Kecurigaan saya yang lain pada penerjemahannya: dalam buku ini banyak sekali kesalahan penulisan, seperti penggunaan kata “dari” sering digantikan dengan kata “dan”. Berdasarkan pengamatan saya mulai dari halaman 372 sampai 419 terdapat kesalahan ketik sejumlah 27. Ini merupakan angka yang cukup besar bagi saya padahal karya ini adalah buku yang sudah berada di tangan editor. Mungkin hal ini bisa menjadi evaluasi tersendiri bagi penerbit.
Resensi Kumpulan Cerpen Metamorfosis Karya Franz Kafka


Hubungan Saling Mempengaruhi

Kafka memahami ideology beserta cara hidup masyarakat urban sehingga menjadikan karyanya benar-benar mengungkapkan sisi gelap masyarakat kota. Salah satu cerpennya yang juga berjudul “Metamorfosis” menampilkan kehidupan masyarakat modern yang mencoba saling mengendalikan. Bagaimana Gregor Samsa dikendalikan oleh keluarganya, atasannya, bahkan oleh jadwal kereta. Gregor samsa tidak memiliki pilhan lain selain menjadi korban hegemoni segala sesuatu yang ada disekitarnya ketika dia menjadi sesuatu yang tidak perlu dikendalikan atau sudah tidak memiliki nilai yang menguntungkan maka dia akan dibuang dan mati sendirian.

Hal yang sama terjadi pada cerpen “Josefine, Sang Penyanyi atau: Manusia-manusia Tikus” perang saling mengendalikan antara Josefine dengan penduduk desanya, dimana josefine menginginkan pengakuan atas seninya  yang ingin diwujudkan dengan pembebasan kerja Josefine namun masyarakat menolak hal itu. Masyarakat menganggap bahwa josefine harus tetap bekerja meskipun seninya merupakan seni yang indah. Masyarakatnya juga merasa terikat terhadap karya-karya Josefine karena dimanapun Josefine bernyanyi seolah masyarakat terhipnotis untuk selalu menghadirinya namun masyarakat tidak mau memberikan pengakuan yang diinginkan oleh Josefine. Terjadi hubungan yang rumit dan absurd antara Josefine dan masyarakat sekitarnya, mengenai sebuah karya seni. Di sisi lain masyarakat merasa terikat dengan karya Josefine namun masyarakat tidak mau memberikan pengakuan terhadap Josefine.

Kehidupan yang saling mempengaruhi juga terdapat dalam karya kafka yang berjudul “Juru Api”. Ada hubungan saling mempengaruhi di dalamnya dimana Karl Rosman dipengaruhi oleh pelayan wanita sampai pelayan itu hamil,  Karl yang mempengaruhi juru api untuk protes kepada atasannya, dan perebutan pengaruh atas kapten kapal yang dilakukan oleh Schubal dan Juru Api. Banyak hubungan perebutan pengaruh dalam cerpen ini. Hal ini menunjukan bahwasanya manusia hanyalah sekumpulan orang yang mencoba saling mempengaruhi untuk kepentingan-kepentingannya sendiri.
Ketakutan-ketakutan akan hilangnya pengaruh juga ditunjukan oleh cerpen “Keputusan Itu” ayah Georg Bendemann sangat takut jika kehilangan pengaruh terhadap anaknya yang akan menikah Bahkan ketakutan ini sampai menyebabkan kegilaan dan paranoid yang akhirnya membunuh ayah Georg dan Georg sendiri.

Karya-karya Kafka ini hampir kesemuanya masih relevant dengan kehidupan masyarakat hari ini. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat kita masih sama dalam kurun waktu 100 tahun. Karya Kafka masih menjadi referensi akurat untuk mengetahui tabiat masyarakat urban. Masyarkat yang mencoba untuk saling menghegemoni satu sama lain.


Secara keseluruhan karya Kafka sangat indah dan menceritakan existensialisme masyarakat kota yang memiliki nilai-nilai dan cara pandangnya sendiri. Dibalik karya yang indah ini ada hal yang aku sayangkan yakni terjemahannya. Terjemahan buku ini sedikit berantakan, menurutku. Yang paling banyak terlihat adalah kesalahan ketik, dan mungkin kesalahan dalam menerjemahkanya secara gramatika dan sintaksis karena banyak sekali kalimat-kalimat yang membutuhkan ketelitian untuk memahami maksudnya, tak jarang aku harus mengulangi membaca sebuah halaman untuk memahaminya. Secara keseluruhan buku ini masih bisa dipahami meskipun terjemahannya berantakan, dan aku mengucap terimakasih yang sebesar-besarnya kepada penerjemah dan penerbit karena mau menerbitkan dan menerjemahkan karya besar dari penulis besar dari luar negeri seperti Kafka ini.