Friday, 10 June 2016

Resensi Buku Metamorfosis

Resensi Kumpulan Cerpen Metamorfosis Karya Franz Kafka

Ketika aku masih bekerja di salah satu café di Jember. Aku bertemu dengan seorang kawan lama, seorang yang dipanggil-panggil sebagai budayawan muda, Halim Bahris namanya. Pertemuanku dengan Halim tidak akan membahas masalah percintaan atau masalah perkawanan kami. Hubungan kami terlalu formal untuk membahas masalah-masalah seperti itu, akhirnya kami memutuskan untuk membahas kesibukan kami dan karya kami.

Aku berkarya dalam bidang teater, tentu saja banyak karyaku yang berbentuk pertunjukan atau teks drama. Aku cukup kaget dengan Halim yang tiba-tiba membuat kesimpulan bahwa aku dan karyaku cocok dengan penulis bernama Kafka, aku tidak mengenal nama Kafka sebelumnya lalu aku telusuri di berbagai searh engine dan website yang tersebar di dunia maya. Singkat cerita aku sudah selesai membaca biografi Franz Kafka dan alangkah berdosanya aku yang seorang calon guru Bahasa dan Sastra Indonesia tidak mengenal Kafka, barangkali aku tidak hanya pantas dicap sebagai penderita rabun sastra tapi sudah patut dicap sebagai kafir sastra.

Aku tidak paham dengan maksud kata “cocok”  yang diungkapkan Halim, mungkin cocok yang dimaksudkan lebih kepada selera bukan kesamaan bentuk karya karena terlalu kurang ajar jika menganggap karyaku sama dengan karya Kafka. Aku tidak akan membahas biografi Kafka di sini, anda bisa membacanya di Wikipedia. Aku ingin membahas buku Metamorfosis dari sudut pandangku secara pribadi.

Kafka merupakan seorang yang bekerja di perusahaan asuransi. Menurutku ini merupakan sesuatu yang unik. Aku jarang mendapati seorang penulis besar yang bekerja semacam ini. Kebanyakan para penulis besar setahuku bekerja dalam bidang jurnalis, percetakan, dan lain-lain yang berhubungan dengan kepenulisan bahkan ada yang hidup dari tulisan-tulisannya atau hidup dari kesenian. Tapi kafka lain, sehingga karya-karyanya benar-benar lain. Banyak penulis yang menulis tentang kehidupan masyarakat modern atau urban tapi tidak ada yang lebih dalam dari Kafka karena dia masuk menjadi masyarakat urban itu sendiri.

Secara bentuk yang terlihat Kafka banyak bermain di wilayah fantasi, dan pesimisme masyarakat modern. Karyanya indah jika dibayangkan dan menggoda untuk diimaginasikan. Seperti karyanya yang berjudul “Metamorfosis”. Di awal aku membaca metamorphosis aku cuma bisa geleng-geleng, pasalnya paragraf pembuka berbunyi “Ketika Gregor Samsa bangun suatu pagi dari mimpi-mimpi buruknya dia menemukan dirinya berubah di atas tempat tidurnya menjadi seekor kecoa yang menakutkan” (Kafka:137) aku merasa heran dengan kalimat pembuka ini. Begitu terang dan apa adanya, membuat aku ingin membaca kisah lanjutannya, dan terasa sekali kesan imaginatifnya. Menurutku ini adalah kalimat pembuka cerpen yang paling fenomenal yang pernah ku baca.

Secara teknis aku juga tidak begitu memahami buku “Metamorfosis” ini masuk dalam buku jenis apa? Apakah antologi puisi, antologi cerpen? Atau buku jenis yang lain? Karena di dalamnya terdapat jenis tulisan yang terlalu pendek untuk menjadi sebuah cerpen. Di dalam buku “Metamorfosis” karya Kafka ini ada sebuah karya yang berisi satu paragraph saja. Saya mengira-ngira mungkin ini adalah salah satu bagian eksperimentasi Kafka terhadap cerpen.

Secara kebahasaan saya juga sedikit bingung dalam memahami isi dari cerpen-cerpennya. Mungkin perbedaan kebudayaan kami menjadi salah satu penyebabnya. Kecurigaan saya yang lain pada penerjemahannya: dalam buku ini banyak sekali kesalahan penulisan, seperti penggunaan kata “dari” sering digantikan dengan kata “dan”. Berdasarkan pengamatan saya mulai dari halaman 372 sampai 419 terdapat kesalahan ketik sejumlah 27. Ini merupakan angka yang cukup besar bagi saya padahal karya ini adalah buku yang sudah berada di tangan editor. Mungkin hal ini bisa menjadi evaluasi tersendiri bagi penerbit.
Resensi Kumpulan Cerpen Metamorfosis Karya Franz Kafka


Hubungan Saling Mempengaruhi

Kafka memahami ideology beserta cara hidup masyarakat urban sehingga menjadikan karyanya benar-benar mengungkapkan sisi gelap masyarakat kota. Salah satu cerpennya yang juga berjudul “Metamorfosis” menampilkan kehidupan masyarakat modern yang mencoba saling mengendalikan. Bagaimana Gregor Samsa dikendalikan oleh keluarganya, atasannya, bahkan oleh jadwal kereta. Gregor samsa tidak memiliki pilhan lain selain menjadi korban hegemoni segala sesuatu yang ada disekitarnya ketika dia menjadi sesuatu yang tidak perlu dikendalikan atau sudah tidak memiliki nilai yang menguntungkan maka dia akan dibuang dan mati sendirian.

Hal yang sama terjadi pada cerpen “Josefine, Sang Penyanyi atau: Manusia-manusia Tikus” perang saling mengendalikan antara Josefine dengan penduduk desanya, dimana josefine menginginkan pengakuan atas seninya  yang ingin diwujudkan dengan pembebasan kerja Josefine namun masyarakat menolak hal itu. Masyarakat menganggap bahwa josefine harus tetap bekerja meskipun seninya merupakan seni yang indah. Masyarakatnya juga merasa terikat terhadap karya-karya Josefine karena dimanapun Josefine bernyanyi seolah masyarakat terhipnotis untuk selalu menghadirinya namun masyarakat tidak mau memberikan pengakuan yang diinginkan oleh Josefine. Terjadi hubungan yang rumit dan absurd antara Josefine dan masyarakat sekitarnya, mengenai sebuah karya seni. Di sisi lain masyarakat merasa terikat dengan karya Josefine namun masyarakat tidak mau memberikan pengakuan terhadap Josefine.

Kehidupan yang saling mempengaruhi juga terdapat dalam karya kafka yang berjudul “Juru Api”. Ada hubungan saling mempengaruhi di dalamnya dimana Karl Rosman dipengaruhi oleh pelayan wanita sampai pelayan itu hamil,  Karl yang mempengaruhi juru api untuk protes kepada atasannya, dan perebutan pengaruh atas kapten kapal yang dilakukan oleh Schubal dan Juru Api. Banyak hubungan perebutan pengaruh dalam cerpen ini. Hal ini menunjukan bahwasanya manusia hanyalah sekumpulan orang yang mencoba saling mempengaruhi untuk kepentingan-kepentingannya sendiri.
Ketakutan-ketakutan akan hilangnya pengaruh juga ditunjukan oleh cerpen “Keputusan Itu” ayah Georg Bendemann sangat takut jika kehilangan pengaruh terhadap anaknya yang akan menikah Bahkan ketakutan ini sampai menyebabkan kegilaan dan paranoid yang akhirnya membunuh ayah Georg dan Georg sendiri.

Karya-karya Kafka ini hampir kesemuanya masih relevant dengan kehidupan masyarakat hari ini. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat kita masih sama dalam kurun waktu 100 tahun. Karya Kafka masih menjadi referensi akurat untuk mengetahui tabiat masyarakat urban. Masyarkat yang mencoba untuk saling menghegemoni satu sama lain.


Secara keseluruhan karya Kafka sangat indah dan menceritakan existensialisme masyarakat kota yang memiliki nilai-nilai dan cara pandangnya sendiri. Dibalik karya yang indah ini ada hal yang aku sayangkan yakni terjemahannya. Terjemahan buku ini sedikit berantakan, menurutku. Yang paling banyak terlihat adalah kesalahan ketik, dan mungkin kesalahan dalam menerjemahkanya secara gramatika dan sintaksis karena banyak sekali kalimat-kalimat yang membutuhkan ketelitian untuk memahami maksudnya, tak jarang aku harus mengulangi membaca sebuah halaman untuk memahaminya. Secara keseluruhan buku ini masih bisa dipahami meskipun terjemahannya berantakan, dan aku mengucap terimakasih yang sebesar-besarnya kepada penerjemah dan penerbit karena mau menerbitkan dan menerjemahkan karya besar dari penulis besar dari luar negeri seperti Kafka ini.
Klik untuk Berlangganan Tulisan

Masukan Email Anda:

1 comment :

  1. Halo Ferick calon guru bahasa Indonesia, hehe, senang sekali membaca tulisannya soal Kafka, pandangan yang menarik! Awalnya saya mau meninggalkan komen untuk meminta maaf sekaligus memberi tahu, saya baru bisa membalas komen Anda mengenai femisnime. Sekarang malah keasyikan membaca postingan di blog ini hehe. Salam

    ReplyDelete